Teori Dasar Kepemimpinan Dalam Islam

TEORI  DASAR KEPEMIMPINAN DALAM ISLAM

Oleh: Mujammi`  Abd. Musyfie  Lc,

 

HAKEKAT KEPEMIMPINAN

Kepemimpinan bukan kekuasaan, bukan jabatan dan kewenangan yang mesti dibanggakan. Kepemimpinan bukan pula barang dagangan yang dapat diperjual belikan. Hakekat kepemimpinan dalam pandangan Islam adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik dan dipertanggungjawabkan bukan saja di dunia tapi juga di hadapan Allah nanti di akhirat. Kepemimpinan yang tidak dijalankan secara professional dan proporsional adalah penghianatan terhadap Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

 من ولى من أمر المسلمين شيئا فولى رجلا وهو يجد من هو أصلح للمسلمين منه فقد خان الله و رسوله

Artinya: Barang siapa yang memimpin suatu urusan kaum muslimin lalu ia mengangkat seseorang pada hal ia menemukan orang yang lebih pantas untuk kepentingan ummat islam dari orang itu, maka dia telah berhianat kepada Allah dan Rasul-Nya. ( HR. Hakim)

ما من راع يسترعيه الله رعية يموت يوم يموت وهو غاش لها الا حرم الله عليه رائحة الجنة

Artinya: Tidak ada seorangpun pemimpin yang diminta oleh Allah memimpin rakyat yang mati  sedang dia curang terhadap rakyatnya kecuali Allah mengharamkan atas dirinya mencium bau surga. ( HR. Muslim )

Kepemimpinan  seharusnya tidak dicari apalagi diperebutkan, kecuali dalam kondisi tertentu untuk kemaslahatan yang lebih luas. Rasulullah bersabda:

انى لا أعطى هذه الامارة لمن سألها  انها  لآمانة  وانها  لحزي يوم القيامة

Artinya: Sungguh saya tidak akan memberikan kepemimpinan ini kepada orang yang mencarinya, karena sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah dan akan membawa derita nanti pada hari kiamat.

Fenomena perebutan dan bahkan transaksi jual beli kepemimpinan  seperti yang sering kita saksikan di panggung politik dewasa ini, adalah bukti kurangnya kesadaran kita untuk melahirkan pemimpin yang benar-benar menjaga amanah dan berorentasi pada kemaslahatan ummat. Setiap kita adalah memiliki potensi untuk menjadi pemimpin, seperti yang dikatakan oleh hadis Raulullah , namun tidak semua orang bisa untuk menjadi pemimpin, karena tanggung jawabnya yang berat dan komplek. Menjadi pemimpin tidak otomatis seseorang menjadi yang terbaik dan bisa segalanya, tetapi pemimpin masih butuh koreksi dari siapapun sebagaimana butuh dukungan dari semua komponen ummat.Dalam pidato politiknya yang pertama kali setelah dibaiat jadi khalifah Abu Bakar RA. Mengatakan: Aku telah diangkat jadi pemimpinmu, namun bukan berarti bahwa aku orang yang terbaik diantara kalian, jika kalian melihatku berjalan di atas jalan yang benar, maka tolong dan bantu aku, jika kalian meliat aku menyeleweng maka luruskanlah aku.”


URGENSI KEPEMIMPINAN :

Dalam kehidupan sosial keagamaan kepemimpinan adalah suatu yang sangat urgen dalam mencapai cita-cita bersama. Hampir  tidak kita dapatkan dalam sejarah kehidupan manusia ada suatu pekerjaan dan sebuah cita cita besar yang dapat dicapai tanpa kepemimpinan. Oleh karena itu  dalam menata kehidupan manusia yang dinamis dan interaktif sudah pasti dituntut adanya seorng pemimpin  yang bertugas  melaksanakan, memandu dan membawa pekerjaan itu kearah tercapainya sasaran.

Allah mengutus Rasul-Nya hakekatnya untuk meminpin ummat agar dapat keluar dari kegelapan  menuju  cahaya kehidupan.Dengan adanya kepemimpinan, suatu ummat atau komonitas akan selalu eksis dan berkembang menuju kebaikan dan reformasi.

و لقد أرسلنا فى كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasu pada tiap-tiap ummat agar mereka menyembah Allah  saja  dan menjahui thaghut. ( Al-Nahl : 36 )

Begitu urgennya kepemimpinan itu, sehingga Rasulullah SAW. Memerintahkan kepada kita untuk mengangkat seorang pemimpin walaupun dalam komunitas yang paling kecilpun dan sasaranya sangat sederhana. beliau bersabda:

اذا خرج ثلاثة فى سفر فليؤمر أحدهم

Artinya: Apabila ada tiga orang diantara kamu keluar dalam satu perjalanan, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin. (HR. Abu Daud)

Selain itu para ulama Islam juga telah memberikan perhatian yang serius dan khusus terhadap masalah kepemimpinan, karena mereka meyakini bahwa kepemimpinan adalah salah satu daya dukung agama. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam bukunya Siyasah Syar`iyah mengatakan : “Perlu diketahui bahwa memimpin urusan manusia  termasuk kewajiban terbesar agama, karena tidak akan tegak agama kecuali dengan kepemimpinan. Sesungguhnya kebutuhan anak Adam tidak akan tercapai secara sempurna kecuali dengan berjama`ah, karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dalam jama`ah itu  sudah barang tentu harus ada seorang pemimpin.”

Dalam kontek kepemimpinan pendidikan ( Qiyadah Tarbawiyah ) Imam Ghazali mengatakan : “Seorang pelajar harus memiliki seorang guru pembimbing ( mursyid ) yang dapat membuang akhlaq yang buruk dari dalam dirinya dan menggantikannya dengan akhlaq yang baik , ia juga harus memiliki  seorang Syekh yang dapat mendidik dan menunjukanya kepada jalan Allah Ta`ala.”. Harus diakui oleh kita semua bahwa krisis yang sedang mengepung ummat sa`at ini  tiada lain karena lemahnya kepemimpinan pendidikan ( Qiyadah Tarbawiyah ) dan hilangnya  pendidik (  Murobby ) yang pemimpin  dan pemimpin yang  pendidk.

Bukti lain urgensi kepemimpinan dalam Islam adalah bahwa para sahabat Rasulullah  SAW. lebih memperioritaskan  mengurus  masalah suksesi kepemimpinan Rasulullah SAW. dibanding mengurus pemakaman Rasulullah SAW. Artinya bahwa dalam berjama`ah tidak boleh ada kevakuman pemimpin.

 

TUGAS KEPEMIMPINAN :

Dalam sejarah kepeminnan Islam banyak istilah yang dipakai untuk menyebut seorang pemimpin. Istilah yang dipakai itu sebenarnya mencerminkan tugas yang seharusnya dijalankan oleh seorang pemimpin. Istilah itu diantaranya :

  • KHALIFAH, secara  etimologis berarti pengganti atau pelanjut, dan yang dimaksud adalah pengganti dan pelanjut tugas-tugas Rasulullah SAW. Dalam melestarikan nilai nilai agama dan dalam mengatur  kehidupan dunia. Maka dengan demikian tugas kepemimpinan dalam Islam adalah  melanjutkan tugas tugas risalah yang diemban Rasulullah.
  • IMAM, secara etimologis  imam artinya yang diikuti dan dita`ati serta diteladani.Dalam salah satu Hadist Rasulullah bersabda :

انما جعل الامام ليؤتم به

Artinya: Sesungguhnya seseorang dijadikan imam itu untuk diikuti. Ini mengisyaratkan bahwa tugas  seorang peminpin itu untuk    diikuti dan ditaati.

  • AMIER, secara bahasa amier artinya adalah yang diperintah atau disuruh.Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Umar bin Khaththab RA. Ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin itu adalah orang yang siap diperintah dan disuruh oleh umat, demi kepentingan mereka. Oleh karena itu tugas seorang pemimpin  dalam Islam adalah melayani ummat bukan yang dilayani oleh ummat. Rasulullah mengatakan :

سيد القوم خادمهم

Artinya: Pemimpin suatu kaum itu adalah pelayan mereka.

  • RA`IN, arti bahasanya adalah pengembala, tugas seorang pengembala adalah menjaga, merawat dan memberi perhatian yang penuh kepada yang digembalanya, dan itulah tugas seorang pemimpin terhadap siapa yang dipimpinnya.
  • QAA `ID, arti bahasanya adalah penuntun,pembimbing, yang artinya seorang pemimpin itu punya tugas sebagai penuntun ummat dan pembimbing mereka ke jalan yang benar yang diridhai oleh Allah., bukan menjauhkan ummat dari jalan Allah.

FUNGSI KEPEMIMPINAN :

Kepemimpinan dalam Islam memiliki fungsi, baik yang bersifat  strategis maupun yang  bersifat  oprasional.

Fungsi strategisnya pemimpin itu sebagai ::

1.   Fasilitator yang membantu tercapainya sasaran dan tujuan jamaah.

2.   Dinamisator yang menggerakan dan  memotori jama`ah menuju sasaran yang ingin dicapai.

3.   Moral force, atau kekuatan moral yang mampu  menjaga kohesi jama`ah dan menyelesaikan konflik serta perselisihan yang mungkin terjadi di dalam jama`ah.

Sedang fungsi operasionalnya pemimpin itu sebagai :

1.   Organisator yang mengorganisir dan mengatur relasi dan keterikatan antar individu atau kelompok yang ada dalam jamaah.

2.   Manajer, yang memenej  berbagai potensi yang ada dalam jama`ah untuk kemudian dimanfaatkan untuk mencapai tujuan jamaah.

3.   Administrator yang menata, menjaga,mengevaluasi hasil hasil yang sudah dicapai oleh jamaah. untuk mencapai tujuan yang lebih jauh lagi.

 

KARAKTERISTIK PEMIMPIN YANG EFEKTIF :

Seorang pemimpin akan efektif dalam menjalankan tuganya  apabila memnuhi karakteristik berikut ini :

  • Memiliki sasaran yang jelas dan yakin bahwa dirinya mampu melaksanakan. Keyakinan itu kemudian  ditranformasikan kepada orang yang dipimpinnya. Dengan memperlihatkan kepada mereka usaha dan motivasi yang kuat secara kontinu  mereka akan  tambah semangat, yang akhirnya   produktivitas kerja jamaah semakin meningkat.
  • Tenang dan mampu menahan diri, apapun yang dihadapi seorang pemimpin, dia harus tenang dan menahan diri, hal ini dicontohkan oleh Abu Bakar RA. ketika mendengar wafatnya Rasulullah SAW.  Beliau segera mendatangi rumah Rasulullah SAW. Dan membuka tabir yang menutup wajahnya lalu menciumnya sambi berkata :” Alangkah indahnya kematianmu, sama seperti keindahan hidupmu”. lalu ditutup lagi wajahnya, kemudian beliau keluar menemui orang-orang  dan menyampaikan pidato:” Wahai sekalian manusia, barang siapa yang menyembah Muhammad maka sesungguhnya beliau sudah meninggal dunia, dan barang siapa yang menyembah Allah , maka sesunggguhnya Allah maha Hidup dan tidak pernah mati.”  lalu beliau membacakan Ayat Al-Qur`an :

وما محمد الا رسول قد خلت من قبله الرسل أفان مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا و سيجزى الله الشاكرين

Artinya: Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlalu  sebelumnya  beberapa Rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang ( Murtad ) barang siapa yang berbalik ke belakang maka dia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun dan Allah  akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. ( Ali Imron : 144 )

  • Bertanggung jawab, artinya seorang pemimpin harus merasa bahwa apa yang diembannya itu adalah amanah dari Allah dan dari ummat, sehingga  mendorongnya untuk melaksanakan kepemimpinannya dengan baik. Karakteristik ini akan memberikan  kontribusi keyakinan kepada ummat yang dipimpinnya akan kemampuan pimpinanya dan menciptakan wibawa pada ummat, yang kemudian mengantarkanya sebagai top figure dan moral force di tengah-tengah masyarakat yang dipimpinnya.
  • Mengenali staf dan anggotanya, hal ini karena akan memberi pengaruh yang sangat besar pada penciptaan keselarasan dalam bekerjasama dan akan memberikan motivasi kepada anggotanya  untuk bekerja lebih baik dan berinovasi. Mengenali staf dan anggota akan memudahkan mengontrol pekerjaan mereka dari dekat dan mengetahui fakta secara langsung. Mengenali mereka juga akan menciptakan keterbukaan dan transparansi antara pemimpin dan yang dipimpin. Umar bin Khaththab RA selalu memperhatikan bawahannya dan berwasiat kepada para pemimpin :” Janganlah anda mendorong kaum muslimin untuk maju menuju kehancuran demi mengharap harta rampasan. Dan janganlah anda memberikan kepada mereka satu kedudukan sebelum anda mengeksplorasinya. Untuk mereka dan mengetahui sumbernya” (Ath-Thabari: 3/9)
  • Cekatan dan inovatif ( Mubadarah dan ibdaa`i ). Artinya seorang pemimpin yang efektif harus cepat  dan tegas dalam mengambil tindakan ,karena keragu raguan dari seorang pemimpin akan berakibat tidak baik dan menciptakan kecemasan pada bawahannya.
  • Memberi keteladanan dan contoh.Karakteristik ini telah memberikan pengaruh yang kuat pada efektifitas kepemimpinan seseorang. Diakui oleh sejarah bahwa keberhasilan kepemimpinan Rasulullah SAW. Terletak pada keteladanannya, bukan pada banyaknya instruksi. Sebuah hikmah mengatakan “ Barang siapa yang menginginkan jerih payah dan kerja yang serius dari bahannya maka ia harus menjadi contoh pertama dalam pekerjaannya.

SYARAT- SYARAT PEMIMPIN :

 Mengingat tugas dan fungsi kepemimpinan di atas begitu komplek dan berat,maka untuk menjadi seorang pemimpin diperlukan syarat-syarat tertentu supaya dapat merealisasikan tugas dan fungsinya itu. Syarat-syarat itu diantaranya :

  1. Memiliki integritas moral yang tinggi ( amanah, shiddiq,  adil sabar  )
  2. Memiliki kecerdasan  intelektual  ( fathanah, basthatan fil ilmi )
  3. Komonikatif dan interaktif dengan sesama. ( tabligh )
  4. Memiliki kecerdasan emosional dan kepekaan social (  azizun aaihi maa `anittum, harisun alaikum,ro`uf rahiem )
  5. Berpenampilan sempurna secara fisik ( basthatan fil jismi )
  6. Memiliki keberanian dan tanggung jawab.( syaja`ah dan sahamah.)
  7.  Ditempa dan dilatih dengan pengalaman hidup yang panjang. ( tarbiyah dan tajribah `Aridhah )
  8. Dan lain-lainnya.

PEMIMPIN, KETUA DAN MANAJER :

 Pemimpin, ketua atau manajer tentu tidak sama,ada perbedaan-perbedaan antara ketiganya dilihat dari beberapa aspek.Apakah kita termasuk seorang pemimpin ? mari kita lihat dan perhatikan table di bawah ini.

 

Aspek Perbandingan

 

Pemimpin

 

Ketua

 

Manajer

Pemilihan Dipilih oleh jamaah berdasarkan pengakuan spontan dari anggota-anggotanya. Terpilih karena suatu sistem dan bukan hasil pengakuan spontan. Diperoleh melalui pengangkatan.
Sasaran Bekerjaa untuk mewujudkan sasaran yang dimandatkan jamaah. Bekerja untuk mewujudkan target yang dipilih secara pribadi dalam batas-batas kepentingannya. Targetnya meraih keuntungan materi atau kedudukan.
Anggota Para anggota memilih pemimpin dan menjadi pengikutnya. Kita tidak dapat mengatakan para bawahan sebagai pengikut karena mereka tidak menerima otoritas atasan berdaasqarkan kemauan mereka. Kita tidak menyebut anggota-anggotanya sebagai pengikut atau bawahan.
Otoritas (kekuasaan) Otoritas pemimpin merupakan pilihan spontan dari pihak anggota jamaah. Otoritas pimpinan datang dari otoritas luar jama`ah. Terkadang dipilih dari nggota yang paling tua atau senior.
Hubungan Seorang pemimpin bekerja dengan cara melebur dan berbaur dengan para pengikutnya. Terdapat jurang dan jarak sosial yang memang disengaja antara kepala dan bawahan. Hubungan diatur oleh program-program (proyek-proyek) dan terikat dengan pekerjaaan.


PENUTUP :

Teori dasar kepemimpinan dalam Islam ini, saya harap menjadi modal awal kita untuk memahami lebih dalam lagi samudra kepemimpinan dalam Islam, sehingga kita lebih siap lagi mengemban amanah kepemimpinan di mana dan kapan saja kita berada. Terus terang kita semua saat ini merindukan munculnya pemimpin bertipe salafus shaleh, seperti Abu Bakar, Umar ibnu Khatthab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib RA.

Sekedar untuk kita renungkan ungkapan kata di bawah ini dari seorang pakar manajemen organisasi Daniel Boorstin : Dunia dewasa ini memilik para pemimpin, tetapi mereka berada dibawah baying-bayang para selebritis. Pemimpin dikenal karena prestasi mereka, sedangkan kaum selebritis dikenal karena ketenaran mereka. Pemimpin mencerminkan kemungkinan-kemungkinan hakikat manusia, sedang kaum selebritis mencerminkan kemungkinan-kemungkinan pers dan media. Kaum selebritis adalah orang-orang yang membuat berita, sedangkan para pemimpin adalah orang-orang yang membuat sejarah.

ِِAl-Amien Prenduan : 7 Januari   2010

Comments
3 Responses to “Teori Dasar Kepemimpinan Dalam Islam”
  1. supriyatna says:

    bagus sekali artikelnya, boleh saya ikut download?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 3,863 other followers

%d bloggers like this: