Semua Itu Berawal Dari Sini

Pada suatu ketika, saat itu saya sedang mengerjakan laporan praktikum. Disela-sela tersebut masih saja bisa OL Facebook (Hahaha) dan ada seorang al-akh yang mengirimkan chat yang berisi pertanyaan. “Emang tahu apa yang dimaksud dalam status saya?” Begitulah kira-kira isi chatnya. Saya tersenyum sendiri mendapat pertanyaan seperti itu. Harapan itu masih ada begitulah isi status dari al-akh tersebut dan saya mengomentarinya panjang lebar (=D). Kami berdua ngobrol berdua cukup lama, sampai-sampai laporan itu saya geletakkan begitu saja. Pada akhirnya saya diajak untuk datang ke Musholla pada waktu yang telah disepakati. Dan saya pun menyepakatinya dengan mengatakan insyaallah.

Akhirnya waktu itupun tiba, tapi jujur saya lupa kalau ada janji pada malam tersebut untuk hadir di Musholla Nurul Ilmi (MNI). Hingga sebuah sms masuk dari teman mengabarkan bahwa ditunggu al-akh tersebut di MNI. Saya balas saja kalau lagi ada dirumah teman dan ada kerjaan. Memang saat itu saya lagi dirumah teman berniat untuk mengerjakan laporan praktikum. Tanpa dosa saya tidak menepati apa yang telah saya janjikan. Kemudian ada lagi sms masuk dari teman lainnya yang isinya sama, mengabarkan kalau ditunggu al-akh di MNI. Saat itulah pikiran saya bimbang, antara mengerjakan laporan atau hadir di MNI. Akhirnya saya putuskan untuk hadir di MNI dan meninggalkan sejenak laporan itu. Karena itulah konsekuensi dengan apa yang telah saya janjikan.

Ketika mau berangkat, hujanpun turun. Jika niatnya setengah-setengah itu adalah alasan yang paling dibenarkan. “Maaf, saya nggak jadi berangkat karena lagi hujan nih” itulah pembenaran yang bisa dilakukan. Tapi, Alhamdulillah saya bisa mengatasi perasaan itu dan tetap melanjutkan niat untuk datang ke MNI. Selagi masih gerimis saya mempercepat langkah kaki agar segera sampai di MNI karena memang saya sudah terlambat dari jadwal yang disepakati kemarin. Alhamdulillah bisa sampai di gerbang kampus walau sedikit basah kuyup.

Pikiran ragu itupun datang lagi, ada apa yaa kok saya harus datang ke tempat itu? Katanya sih ada diskusi, atau apalah itu namanya. Pikiran itu semakin menjadi ketika langkah kaki ini hampir sampai ke MNI. Saya teruskan apa saya kembali ke jurusan berkumpul dengan teman-teman untuk mengerjakan laporan praktikum. Alhamdulillah masih diberi kekuatan untuk melanjutkan niat awal untuk datang ke MNI. Lagipula sudah basah kuyup rugi kalau tidak hadir. Dan akhirnya saya masuk ke MNI dengan disambut oleh beberapa teman yang memang sudah saya kenal sebelumnya. Oalah orang-orang ini ternyata yang berada disini.

Ternyata masih belum mulai diskusinya, Alhamdulillah. Diawali dengan pembukaan oleh al-akh tadi beserta ucapan selamat datang bagi saya dalam forum tersebut. Senang rasanya disambut baik, jadi merasa dihargai, Hehehe. Ternyata disuruh baca Al-Qur’an, mana saya tahu kalau disuruh bawa Al-Qur’an. Akhirnya diberi pinjeman oleh teman untuk membacanya. Masalahnya Al-Qur’an tersebut bukan Al-Qur’an yang biasa saya baca, tulisannya kurang begitu jelas. Saya terbiasa menggunakan mushaf dirumah, yang dapat langsung dari Arab Saudi yang usianya hampir sama dengan usia saya atau bahkan lebih tua dari umur saya. Ditambah dengan jarangnya saya membaca Al-Qur’an selama awal-awal kuliah, lebih disibukkan dengan menulis laporan (Astaghfirullaah). Dengan sedikit terbata-bata karena susah membaca huruf per hurufnya saya menyelesaikan membaca 1 halaman. Alhamdulillaah. Ternyata melalui forum tersebut saya kembali membaca Al-Qur’an (Astaghfirullah, Alhamdulillaah). Betapa lalainya hambamu ini rabb, Alhamdulillah engaku mempertemukanku dengan saudara-saudara yang mengingatkanku.

Setelah sedikit pemaparan materi dari Al-Akh tersebut ada sebuah diskusi yang cukup menarik. Entah kenapa masalahnya itu kok CINTA yaa? Susah saya mengikuti jalan diskusi tersebut. Karena memang tidak sesuai dengan diri saya. Bagaimana saya bisa mengatakan kalau pacaran itu tidak boleh sedangkan saya sendiri pada saat itu punya pacar (Astaghfirullaah), bagaimana saya bisa mengatakan bahwa kita harus membatasi pergaulan dengan lawan jenis yang bukan muhrim sedangkan saya masih terbiasa bergaul dengan teman-teman tanpa peduli muhrim kita atau tidak (Astaghfirullaah). Sempat saya berfikir apakah ini bukan forum untuk saya?. Pikiran berkecamuk pada saat itu, tapi saya tutupi dengan tersenyum dan menyimak diskusi teman-teman lainnya.

Diskusi tadi benar-benar menohok bagi diri ini. Bagaimana bisa seperti ini?. Lagi-lagi saya melakukan pembenaran dengan apa yang telah saya perbuat. Melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan hati nurani itu sungguh menyesakkan. Nurani saya berkata bahwa itu memang tidak boleh, disisi lain setan dalam diri ini membisikkan bahwa itu sah-sah saja toh diluar sana banyak orang yang melakukannya juga. Mungkin disini perlu kita tekankan bahwa kita tidak boleh selalu membenarkan yang biasa, tapi selalu membiasakan yang benar. Akhirnya, walau tak secara langsung saat itu juga saya berhasil lepas dari jeratan itu dengan bantuan Allah tentunya. Alhamdulillaaah.

Itulah cerita awal dari romantisme antara aku dan tarbiyah. Aku mencintai tarbiyah ini dengan segala apa yang ada didalamnya. Semoga bisa senantiasa istiqomah hingga nanti. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: