Mengenal Lebih Dekat Imam Syafi’e

LEBIH DEKAT BERSAMA  IMAM SYAFI`IE

Oleh : Mujammi` Abd. Musyfie

PENDAHULUAN 

Imam Syafi`ie bagi kita ummat IslamIndonesiabukanlah tokoh baru dan asing di telinga kita. Pemahaman keagamaan kita terutama pada aspek hukum fiqihnya umumnya merujuk pada pemikiran Imam Syafi`ie. Fakta ini menjadi bukti betapa besarnya pengaruh pemikiran Imam Syafi`ie pada kehidupan keagamaan ummat Islam Indonesia. Imam Syafi`ie dalam pemikiran fiqih Islam khususnya dikenal sebagai sosok pemikir moderat, bahkan lebih dari itu secara historis beliau telah sukses membangun dan meletakan dasar-dasar berfikir moderat  di bidang fiqih dan syariat, Tidak berlebihan kiranya jika ada ungkapan yang mengatakan : “Andaikata boleh seorang alim itu bertaqlid kepada seorang alim, maka yang paling pantas adalah bertaqlid kepada Imam Syafi`ie”.

Besarnya kontribusi Imam Syafi`ie dalam membangun dan mengkonstruksi pemahaman agama dengan dasar-dasar yang benar, telah membuatnya disanjung dan dipuji dan pemikirannya diteladani oleh banyak orang  hingga saat ini dan bahkan sampai dunia ini berakhir nanti. Imam Syafi`ie diakui oleh banyak kalangan sebagai seorang mujaddid yang sangat mempuni dalam menjelaskan kembali berbagai persoalan dan problemaika agama. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa nabi Muhammad SAW. Bersabda :

ان الله يمن على اْهل دينه فى راْس كل مائة سنة  برجل من اْهل بيتى  يبين لهم اْمر دينهم.

Artinya: Sesungguhnya Allah akan mengaruniakan kepada orang orang yang memeluk agamanya pada setiap seratus tahun seorang yang berasal dari keluargaku yang akan menjelaskan kepada mereka urusan agama mereka.

Hamid bin Zanjawaih mengomentasi hadist ini dengan mengatakan: Bahwa seratus tahun pertama Allah mengaruniakan kepada umat ini seorang pembaharu yaitu Umar bin Abdil Aziz yang berasal dari keluarga Rasulullah, dan pada seratus tahun kedua  Allah mengutus Imam Syafi`ie yang juga berasal dari keluarga Rasulullah SAW.

Walaupun kita semua yakin bahwa pemikiran  fiqih Syafi`ie telah menjadi titik tolak pemahaman keagamaan umat Islam Indonesia, namun faktanya tidak sedikit dari kita yang tidak  mengenal pemikiran sang Imam lewat karya-karya tulisnya secara langsung, seperti kitab Al-Umm dan Ar-risalah. Pemahaman fiqih kebanyakan kita bersumber dari kitab-kitab yang dikarang oleh ulama-ulama Syafi`iyah. Seperti kitab Fathul Qorieb, Fathul Mu`ien, Fathul Wahhab dsb.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan terhadap tradisi yang sudah berjalan, terutama di Pesantren selama ini, kita tentu perlu pula mengkaji dan memahami lebih dekat lagi pemikiran pemikiran dan berbagai sisi kehidupan Imam Syafi`ie, agar kebanggaan  kita kepada sang tokoh tidak sekedar kebanggaan semu tetapi kebanggaan yang benar benar didasarkan pada alasan-alasan rasional yang bisa dipertanggungajawabkan.secara ilmiyah maupun secara moral.

NASAB DAN SEJARAH KELAHIRAN IMAM SYAFI`IE

Menurut catatan sejarah Imam Syafie lahir dengan nama Muhammad, bapaknya adalah  Idris bin Abbas  bin Usman bin Syafi` bin Saib bin Abied  bin  Abdi Yazid bin Hasyim  bin Al-Muthallib  bin Abdi Manaf  bin Qushai bin Kilab bin Murrah.Nasabnya dengan Rasulullah SAW bertemu  pada kakeknya  Abdi Manaf bin Qushai. Sedang ibunya menurut riwayat yang masyhur  adalah  Fathimah Ummu Habibah seorang wanita yang berasal dari qobilah Azad yang juga termasuk qobilah yang terkemuka dan terhormat, hal ini berdasarkan riwayat imam Malik bin Anas bahwa Rasulullah pernah mengatakan : “ Al-Azad adalah azadullah “. Hal ini mengindikasikan keterhormatan dan keistimewaan qobilah Azad dengan dinisbahkannya  kepada nama Allah SWT.

Beliau dilahirkan dikotaGhazzah Palestina pada bulan Rajab tahun 150 H. atau tahun 767 M. bertepatan dengan tahun meninggalnya seorang Imam besar yaitu Abu Hanifah  Rahimahullah. Ia terlahir sebagai anak yatim dalam kondisi ekonomi keluarganya  yang sangat terbatas. Ketika beliau berumur dua tahun, ibunya membawanya kekotaMakkah yang merupakan asal leluhurnya. Di kota Makkah inilah ibu Imam Syafi`ie memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan. Di bangku pendidikan   itulah kecerdasan dan kejeniusan Imam syafi`ie mulai tampak dan menonjol dari teman-temannya yang lain, ia mampu mereview semua apa yang disampaikan oleh gurunya dan menjelaskan kembali kepada teman temanya yang lain, dari kreativitasnya itu ia kemudian mendapat upah  atau honur untuk sekedar membiayai hidupnya. Modal kecerdasan dan kejeniusan itulah yang kemudian mengantarkan Imam syafi`ie menjadi penghafal Al-Qur`an yang luar biasa, karena usianya yang sangat relatif muda yaitu tujuh tahun.

Setelah lama berjuang dan berkiprah di lapangan ilmu pengetahuan, mautpun tiba menjemputnya untuk menghadap kepada sang pencipta tepat pada malam Jum`at setelah Maghrib di Bulan Rajab tahun 204 H. Namun demikian ilmu dan karya-karyanya masih terus memenuhi langit dan bumi sampai sekarang, karena tidak ada seorang ulama besar kecuali semua berhutang budi kepada Imam Syafi`ie.

IMAM SYAFI`IE DAN TRADISI HIJRAH

Salah satu tradisi keulamaan dan juga orang orang sukses lainya adalah berhijrah  dan berkelana dari satu tempat ke tempat yang lain. Imam Syafi`ie dengan dorongan yang kuat dan serius untuk menambah berbagai ilmu pengetahuan dan pengalaman telah ikut pula melestariakan tradisi ulama ini Sejak masa kecilnya Imam Syafi`ie sudah biasa berhijrah, pertama kali ia hijrah dari kota kelahiranya ke kota Makkah, dari Makkah ia terus berobsesi untuk hijrah ke Madinah belajar fiqih  kepada Imam Malik. Dari Madinah ia melanjutkan perjalanannya ke Yaman lalu ke Baghdad dan kemudian ke Mesir. Pengembaraan panjang dalam mencari ilmu yang dilakukan Imam Syafi`ie ini sesungguhnya  menunjukan sikap kesungguhan dan semangat yang tinggi dalam mencari ilmu tanpa mengenal lelah. Ada satu untaian syair yang ditulis Imam Syafi`ie dan telah banyak dihafal oleh para santri yaitu :

ما فى المقام لذى عقل و ذى اْدب  # من راحة فدع الاْوطان واغترب

سافر تجد عوضا عمن تفارقه       # واصب فان لذيذ العيش فى النصب

Artinya: Sungguh tidak layak bagi orang berakal dan beradab untuk santai dan bersenang senang, maka tinggalkanlah kampung halamanmu dan melanconglah. Pergilah jauh dari rumahmu pasti engkau akan mendapatkan gantinya, dan bersusah payahlah karena sesungguhnya kesenangan hidup itu akan dirasakan setelah bersusah payah.

Di Makkah ia mula-mula belajar al-Qur`an dan menghafalkannya, sukses menghafal Al-Qur`an dengan baik di usianya yang masih muda itu ia lalu segera mempelajari dan menekuni ilmu ilmu bahasa Arab di Masjidil Haram yang akhirnya semua cabang ilmu bahasa Arab dapat dikuasainya dengan baik sehingga ia dikenal sebagai hujjah dalam bahasa Arab dan Ulama ketika itu menyetarakannya dengan Al-Hakam bin  Abddul Muthallib seorang sastrawan Arab kenamaan. Tidak cukup hanya dengan menguasai bahasa Arab beliau juga terus melanjutkan pengembaraannya untuk mendalami ilmu Al-Qur`an dan Ilmu Hadis, dari ulama-ulama Makkah seperti Syekh Ismail bin Qosthanthin, Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid Al-Zanji, Sa`ied bin Salim Al-Qoddah,Daud bin Abdurrahman Al-Aththar dsb.

Dari Makkah ia terus berkelana dan mengembara ke Madinah, disanabelajar Hadis dan fiqih kepada Imam Malik bin Anas. Ibrahim bin Sa`ad Al-Anshari, Abdullah bin Nafi` Al-Shaaigh dsb. Tidak cukup menimba ilmu dari ulama-ulama  Makkah dan Madinah iapun melanjutkan perjalanan intelektual dan spritualnya menuju  Iraq untuk belajar dan menimba ilmu dari  Syekh Waki` bin Al-Jarrah, Abu Usamah Hammad bin Usamah Al-Kufi, Ismail bin Aliah dan Abdul Wahhab bin Abdul Majid Al-Bashri.

Perjalanan panjang mencari ilmu dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu sumber ke sumber yang lain, interaksi intensif yang ia lakukan dengan banyak pemikiran yang berbeda beda telah mengantarkan Syafi`ie menjadi tokoh Ulama yang memiliki wawasan keilmuan yang amat luas dan kematangan sikap dan mental dan mampu memformulasikan  berbagai pemikiran yang berkembang menjadi satu bentuk pemikiran yang moderat.yang sangat diterima oleh banyak kalangan.

IMAM SYAFI`IE DAN USHUL FIQIH

Imam Syafi`ie lahir dan tumbuh dalam suasana perbendaharaan fiqih yang sudah berkembang sedemikian rupa sejak periode sashabat, tabi`ien dan imam-imam madzhab yang mendahuluinya. Ia menemukan pada zamannya perbincangan fiqih yang sangat dinamis dan diwarnai dengan diskusi-diskusi dan polemik yang menarik antara tokoh-tokoh yang berbeda pendapat. Fanatisme madzhab dan aliran ketika itu tidak bisa dihindari, dan perdebatan terbukapun terjadi dan bahkan aksi serang menyerang dan permusuhan antara aliran sering terjadi. Secara umum pemikiran fiqih yang berkembang pada zaman Imam Syafi`ie ada dua corak aliran yaitu aliran yang  bercorak tradisional (Ahlul hadis) yang diwakili oleh ulama-ulama Madinah dan aliran yang bercorak rasional (Ahlul Ra`yi) yang diwakili oleh ulama-ulama Kufah dan Baghdad.

Dalam suasana seperti itu dengan modal pengalaman dalam berbagai diskusi di tengah pendapat yang berbeda yang ditopang pula oleh pengetahuannya tentang fiqih Maliki yang beliau terima langsung dari Imam Malik di Madinah, juga tentang fiqih Irak yang bercorak rasional dimana beliau pernah menimba ilmu pengetahuan dan pengalaman dari Muhammad bin Hasan Al-Syaibani salah seorang murid dan pengikut Imam Abu Hanifah, selain itu imam Syafi`ie juga mendalami fiqih Makkah tempat pertama ia menuntut ilmu. Beliau juga piawai dalam bahasa Arab. Modal pengetahuan dan pengalaman yang sangat luas itulah yang kemudian memberikan petunjuk kepada Imam Syafi`ie  untuk meletakkan pedoman dan neraca berfikir yang menjelaskan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh seorang mujtahid dalam merumuskan hukum dari dalilnya. Metode berfikir yang berhasil dirumuskan oleh Imam Syafi`ie itu kemudian dikenal dengan sebutan Ilmu Ushul Fiqih.

Imam Syafi`ie memang dikenal sebagai orang yang pertama kali menyusun sistematika metodologi berfikir tentang hukum Islam atau ushul fiqih, sehingga tidak salah bila seorang oreintalis Inggris mengatakan bahwa Imam Syafi`ie adalah arsitek ilmu hukum Islam. Dan bahkan ada yang mengatakan pula bahwa kedudukan Imam syafi`ie dalam pengembangan hukum Islam sama seperti kedudukan  Aristoteles dalam ilmu filsafat. Ini artinya bahwa Imam Syafi`ie benar benar memiliki arti penting  dalam merumuskan dasar-dasar berfikir tentang hukum Islam, seperti pentingnya aristotles dalam merumuskan dasar-dasar berfikir filsafat.

Tujuan yang hendak dicapai oleh ilmu ushul fiqih yang disusun secara sistimatis oleh Imam Syafi`ie ialah untuk diterapkan kaidah kaidahnya kepada dalil-dalil syara` yang bersifat rinci agar sampai pada satu kesimpulan hukum yang ditunjukkan oleh dalil itu dengan  ushul fiqih maka nash-nash syara` serta hukum hukum yang terkandung di dalamnya dapat dipahami dengan benar dan mudah. Demikian juga kita dapat memahami bahwa ulama-ulama mujtahid itu dalam merumuskan hukum Islam selalu berpijak pada rumusan rumusan ushul fiqih, sehingga tidak ada alasan lagi untuk saling menyalahkan antara satu madzhab dengan madzhab yang lain yang didasarkan pada fanatisme madzhab yang tidak dibenarkan sama sekali dalam Islam.

Dengan penyusunan ilmu ushul fiqih yang dipelopori oleh Imam syafi`ie itu, diharapkan dapat mengurangi taqlid buta terhadap suatu madzhab dan  fanatisme yang berlebihan yang bisa menimbulkan pemusuhan dan ketegangan antara pengikut pengikut madzhab. Ushul fiqih bila kita memahami kaidah-kaidahnya juga dapat memudahkan kita melakukan istimbath hukum pada masalah-masalah baru yang tidak terdapat dalam kitab-kitab fiqih terdahulu, sehingga hukum fiqih terus dinamis dan responsif terhadap berbagai perkembangan pada setiap aspek kehidupan manusia dengan tetap berdasarkan pada kemaslahatan bersama yang merupakan tujuan pokok dari syariat  Islam.

IMAM  SYAFI`IE DAN PEMIKIRAN THEOLOGI

Ternyata Imam Syafi`ie juga banyak berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan ilmu tauhid atau ushuluddin selain berbicara mas`alah-mas`alah fiqih. Imam Baihaqi  umpamanya meriwayatkan dari Rabi` bin Sulaiman bahwasanya Imam Syafi`ie mengatakan: “Barang siapa yang bersumpah dengan salah satu asma Allah, kemudian melanggar sumpahnya, maka ia wajib membayar kaffarat. Dan barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, misalnya demi ka`bah, atau demi ayahku dan sebagainya kemudian melanggarnya, maka ia tidak wajib membayar kaffarat,” Hal ini karena imam Syafi`ie berpandangan bahwa Asma Allah itu bukan makhluq. Imam Syafi`ie juga mengatakan yang diriwayatkan oleh Yunus bin Abdil A`la:” Jika kamu mendengar ada orang yang berpendapat bahwa sebuah nama itu berbeda dengan yang dinamai, maka saksikanlah bahwa orang itu  adalah kafir zindiq..

Dalam kitabnya Ar-Risalah Imam syafi`ie mengatakan :” segala puji bagi Allah yang memiliki sifat-sifat sebagaimana yang Ia sifatkan kepada dirinya , dan di atas yang disifati oleh makhluqnya.”

Diriwayatkan oleh Imam Al-Lalaka`I dari Ar-Rabi` bin Sulaiman bahwa Imam Syafi`ie pernah berkata:” Barang siapa mengatakan bahwa Al-Qur`an itu makhluq  maka dia telah menjadi kafir”.

Di riwayatkan oleh imam Al-Baihaqi dari Abu Muhammad Az-Zubairi, bahwasanya ada orang yang bertanya kepada imam Syafi’ie “Benarkah Al-Qur’an itu kholiq?”, beliau menjawab “Tidak benar”. “Apakah Al-Qur’an itu makhluk?”, “Tidak” jawab Imam Syafi’ie. “Apakah Al_Qur’an itu bukan makhluk?” tanyanya lagi, “Ya, begitu” jawab Imam Syafi’ie. Orang tadi bertany lagi “Apa buktinya bahwa Al-Qur’an itu bukan makhluk?”. Imam Syafi’ie lalu mengangkat kepalanya dan berkata: “Maukah kamu mengakui bahwa Al-Qur’an itu kalam Allah?”, “ya, mau” Jawab orang tadi. Imam Syafi’ie kemudian berkata “ kamu telah didahului oleh satu ayat,

 و ان احد من المشركين استجارك فاجره حتى يسمع كلام الله ( التوبة

Artinya: Dan jika di antara orang-orang musyrik itu meminta perlindungan kepada kamu, maka lindungilah dia supaya dia sempat mendengar kalamullah (at-Taubah: 6).

Dan juga firman Allah,

وكلم الله موسى تكليما

Artinya, dan Allah telah berbiara dengan musa secara langsung (An-Nisa’: 164).

Dan Imam Syafi’ie kemudian berkata lagi kepadanya:  Maukah kamu mengakui bahwa Allah itu ada dan demikian pula kalam-Nya? Atau Allah itu ada sedangkan kalamnya belum ada?. Orang itu lalu menjawab Allah ada, begitu pula kalamnya. Mendengar jawaban itu Imam Syafi`ie tersenyum dan berkata¨” Wahai orang Kufah kamu telah membawa sesuatu yang sangat berarti kepadaku.” Jika kamu percaya bahwa Allah itu ada sejak zaman Azali, dan begitu pula kalam-Nya,lalu dari mana kamu punya pendapat bahwa kalam Allah itu bukan Allah? Mendengar penegasan Imam Syafi`ie itu  orang tadi terdiam dan akhirnya keluar.

Terhadap ilmu kalam Imam Syafi`ie mempunyai pandangan yang cukup tegas dan   keras, beliau mengatakan “Seandainya ada orang berwasiat kepada orang lain untuk mengambil kitab-kitab keislamanya, sementara diantara kitab itu ada kitab-kitab kalam, maka kitab kalam itu tidak termasuk dalam wasiat, karena ilmu kalam itu tidak termasuk ilmu keislaman”. Diriwayatkan oleh Imam Al-Harawi dari Az-Zakfaroni bahwasanya ia mendengar Imam Syafi`ie  mengatakan: “ Saya tidak pernah berdiskusi dengan seorangpun dalam masalah kalam, kecuali hanya satu kali saja dan itupun kemudian saya membaca istighfar minta ampun kepada Allah”. Beliau juga mengatakan :” Jika aku mau, saya  bawa kitab-kitab yang besar untuk berdiskusi dengan lawan pendapatku, tapi untuk berdiskusi  tentang mas`alah kalam,saya tidak suka dikaitkan dengan kalam’.

Imam Syafi`ie seperti yang diriwayatkan Yunus Al-Mishri juka mengatakan:” Seandainya Allah memberi cobaan kepada seseorang  sehingga  ia melanggar larangan-nya selain syirik, hal itu masih lebih baik dari pada ia mendapatkan cobaan dengan terperosok pada ilmu kalam”.

Abu Tsaur berkata:” Aku mendengar Imam syafi`ie berkata: ‘ Berdasarkan ijtihadku, ketentuan hukuman bagi ahlul kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma,diseret dengan unta dan digiring ke tempat-tempat ramai di antara suku-suku. Di samping itu diumumkan pula bahwa hukuman semacam ini  adalah balasan bagi orang yang meninggalkan kitab Al-Qur`an  dan Sunnah dan suka ilmu kalam”. Beliau juga tegaskan bahwa “ barang siapa yang menekuni ilmu kalam maka dia tidak akan berbahagia”. Menurut Imam  Al-Baihaqi yang dimaksud dengan ahlul kalam adalah orang orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya, mereka hanya bertumpu pada akalnya dengan meninggalkan Al-Qur`an dan Sunnah.

IMAM SYAFI`IE DAN TASAWWUF

Imam Syafi`ie dalam berbagai catatan sejarah ternyata tidak hanya dikenal sebagai pakar dan pemikir hukum fiqih, tetapi beliau juga seorang yang hidupnya tidak pernah lepas dari dzikir. Kemampuanya memadukan antara kecerdasan intelektualnya dan kecerdasan spritualnya dan emosionalnya, itulah yang telah mengantarkannya menjadi tokoh fenominal yang cukup dikagumi oleh banyak kalangan.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya`nya mengungkapkan kekagumannya kepada para Fuqoha` madzhab yang telah memadukan  antara ilmu fiqih dengan ilmu hakikat ( tasawwuf ) seperti Imam Syafi`ie, Imam malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Sufyan Al-Tsauri, di samping mereka menguasai ilmu fiqih dhahir mereka juga dikenal sebagai orang yang ahli Ibadah, zuhud dan wara`. AR-Rabi` bin Sulaiman mengatakan bahwasanya Imam Syafi`ie waktu malamnya menjadi tida bagian, yaitu sepertiga untuk ilmu, sepertiga lagi untuk shalat dan sepertiga lagi untuk tidur.Arrabi` juga meriwayatkan bahwa Imam syafi`ie menamatkan Al-Qur`an di bulan Ramadhan  sebanyak enam puluh kali dan itu dilakukan dalam shalat.

Imam Syafi`ie berkata:” Saya  sejak enam belas tahun tidak pernah kenyang, karena kenyang itu membikin badan jadi berat dan mengeraskan hati, dan menghilangkan kecerdasan, dan gampang ngantuk serta membikin malas beribadah.”.

Diceritakan  Ar-Rabi` bahwa suatu ketika Abdullah bin Abdil Hakim berkata kepada Imam Syafi`ie,” Kalau kamu mau tinggal di Mesir hendaklah kamu membawa bekal yang cukup untuk satu tahun, karena sesungguhnya orang orang di sana  banyak yang hidup mewah dan bermegah-megahan “.Lalu Imam syafi`ie menjawab “ Wahai Abu Muhammad barang siapa yang tidak pernah menjadikan taqwa sebagai modal kemuliaannya maka sesungguhnya ia tidak akan pernah mulia,.Aku telah dilahirkan di Gazza lalu dibesarkan di Hijaz, dan kami ketika itu tidak ada makanan walau hanya untuk dimakan satu malam, namun demikian kami tidak tidur dalam keadaan kelaparan”.,

Yunus bin Abdil A`la pernah bercerita bahwa Imam Syafi`ie berkata kepadanya :” wahai abu Musa tenangkanlah dirimu dalam kemiskinan, karena dengan begitu aku tidak akan pernah meninggalkan dirimu”.

Imam Syafi`ie pernah menasehati Ar-Rabi` bin Sulaiman beliau berkata:” Wahai Ar-Rabi` berzuhudlah kamu, karena sesungguhnya zuhud itu bagi orang yang zuhud lebih indah dari segala bentuk perhiasan bagi perempuan yang ahli bersolek dan berdandan.

Abdullah bin Muhammad Al-Balwa berkata,:” Pada suatu hari kami berbincang tentang orang zuhud, ahli ibadah dan berkarakter ulama, berikut tingkat kezuhudan, kafasihan dan ilmu mereka. Tiba-tiba ketika itu datang Umar bin Nabatat dan berkata : “ Apakah yang sedang kalian semua bicarakan ?”, kami menjawab :” Kami sedang membincang  tentang orang zuhud, ahli ibadah dan berkarakter ulam.” Lalu ia berkata:” Aku bersumpah, demi Allah aku belum pernah melihat orang yang lebih wara` , lebih khusyu`, lebih fasih, lebih sederhana, lebih berilmu,lebih dermawan, cerdas dan lebih mulia dari pada Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi`ie.” Beliau juga pernah menyatakan bahwa dirinya tidak pernah bersumpah baik dalam keadaan benar atau dalam keadaan salah.

Ahmad bin Yahya  meriwayatkan bahwa suatu hari imam Syafi`ie keluar dari pasar, kami mencoba mengikutinya, tiba-tiba ada seseorang yang sedang memaki-maki seorang ulama, lalu Imam Syafi`ie menoleh kepadaku dan mengatakan :” jauhkan pendengaranmu dari mendengar kata-kata kotor, sebagaimana kamu menjauhkan mulutmu dari berkata-kata kotor itu, karena sesunggguhnya pendengar itu sama dengan yang berbicara, dan sesungguhnya orang bodoh itu melihat sesuatu yang paling buruk dalam bejana miliknya, lalu dia ingin membuangnya di bejana milikmu, jika ditolak atau tidak diterima kata-kata orang bodoh itu niscaya dia akan bahagia, sebagai mana yang berkata kotor itu akan tetap sengsara.”

Imam Syafi`ie mengatakan bahwa barang siapa yang mengatakan bahwa dirinya telah bisa memadukan antara cinta dunia dan cinta ؛penciptanya juga, maka sesungguhnya dia telah dusta. Walaupun berbagai puncak prestasi telah dapat dicapai oleh Imam Syafi`ie, namun tidak membuatnya sombong dan lupa diri, ketulusan dan keikhlasannya dalam memberi ilmu dan menulis buku sangat dirasakan oleh orang-orang yang mengenalnya. Beliau pernah mengatakan: ” Aku senang dan suka bila orang memanfaatkan ilmu ini tanpa harus dinisbatkan sedikitpun dari ilmu itu kepada saya, lalu saya dapat pahala dan mereka tidak memujiku”

Kisah kisah dan riwayat di atas sesungguhnya mengisyaratkan dan mengindikasikan bahwa Imam Syafi`ie sesungguhnya telah memperaktekkan nilai nilai tasawwuf dalam kehidupan pribadinya. Namun harus diakui bahwa nilai-nilai tasawuf yang dikembangkan oleh Imam Syafi`ie belum sepenuhnya dipahami dan dipraktekkan oleh kita yang mengagumi ketokohan Imam Syafi`ie.

KARYA=KARYA IMAM SYAFI`IE

 Banyak karya-karya tulis yang telah diwariskan kepada kita, menurut Imam al-baihaqi dalam Manaqib Asy-Syafi`ie ada sekitar 140 an kitab yang telah ditulis oleh Imam Syafi`ie di berbagai bidang ilmu pengetahuan.,diantaranya adalah :

  1. Kitab Al-Umm. Kitab ini merupakan kumpulan pelajaran yang pernah disampaikan kepada murid-muridnya Ada yang mengatakan bahwa yang mengedit buku ini adalah Yusuf bin Yahya Al-Buwaithy, ada pula yang mengatakan adalah Ar-Rabi` bin Sulaiman. Kedua-duanya adalah murid Imam Syafi`ie.
  2. Kitab Ar-Risaalah. Kitab ini merupakan kitab ushul fiqih, yang ditulis oleh   Imam Syafi`ie sebagai jawaban atas surat yang dikirimkan oleh Abdurrahman bin Mahdi.
  3. Kitab ِAl-Musnad. Kitab ini merupakan kumpulan hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Syafi`ie dan dirangkum oleh Abul Abbas ibnu Muhammad bin Ya`kub Al-Asham.
  4. Kitab ikhtilaaful hadist.
  5. Kitab Ushuluddin wa  masaailis Sunnah
  6. Kitab Ahkamul Qur`an
  7. Kitab As-Sabaq war-Ramyu
  8. Kitab Al-Washiyyah
  9. Kitab Al-Fiqhul Akbar
  10. Kitab Jima`ul Ilmi, dsb.

 PENUTUP

Imam Syafi`ie sebagai salah satu tokoh  pesantren bahkan lebih dari itu ia juga sebagai roh Pesantren karena hampir segala aktifitas ibadah formal para kiyai dan santri serta semua warga pesantren bersumber dari pemahaman atau madzhab Syafi`ie, tentu kita sebagai komonitas santri dan intelektual pesantren  wajib kita berusaha  menteladaninya baik sikap mental dan prilakunya   maupun cara berfikirnya.

Ada baiknya di penutup ini saya tuliskan salah satu wasiat Imam Syafi`ie yang ditulis sebelum beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir. “ Hendaklah kita tetap menghalalkan apa yang dihalalkan oleh Allah dan Nabi-Nya, dan mengharamkan apa yang sudah diharamkan oleh Allah dalam  Kitab-Nya dan Rasulullah dalam sunnahnya.Janganlah melampaui batas-batas ketentuan yang dihalalkan maupun yang diharamkan  tersebut dengaan hal-hal lain, sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas ketentuan tersebut berarti meninggalkan kewajiban yang ditentukan  Allah.”

DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Syafi`ie, Imam  2002   Al-Umm , penerbit Daarul- Fikri

2. Al-Syafi`ie, imam              Al-Risaalah, penerbit Daarul Fikri

3. Ahmad Farid                       60 Biografi Ulama Salaf

4. Al-Ghazali                         Mukhtashar Ihya` ulumuddin

5.Abd. Rahman Al-Syarqowi, Riwayat Sembilan Imam Fiqih

6. Jamil Zainu                         Aqidadul Aimmah Al-Arba`ah,

7. Nashr Hamid Abu Zaid      Imam Syafi`ie, Moderatisme, Eklektisisme, Arabisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: