Kepemimpinan Sebagai Amanah

Kepemimpinan Sebagai Amanah

Oleh:

KH. Maktum Jauhari, M.A.

  

Hakikat dan Potensi Kepemimpinan

 Sebagai sebuah potensi, kepemimpinan adalah anugerah Allah yang diberikan kepada setiap manusia. Tidak ada manusia yang lahir tanpa dibekali potensi ini. Potensi kepemimpinan hanya diberikan kepada manusia, makhluk Allah yang memiliki predikat sebagai ciptaan terbaik ”ahsanu taqwim” karena manusia memiliki hati dan akal pikiran sekaligus. Di sinilah letak perbedaan manusia dengan makhluk lainnya.

Esensi penciptaan manusia sebagai khalifah (pemimpin) sesuai firman Allah SWT, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata, ’Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ’Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (QS Al Baqarah: 30).

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. juga menegaskan bahwa setiap muslim sejatinya adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya. Rasulullah bersabda, ”Tiap-tiap kamu adalah pemimpin (ra’in), dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya.” (HR Bukhari-Muslim).

Term ”khalifah” dalam ayat di atas dan term ”ra’in” dalam hadis di atas, secara leksikal merujuk kepada makna ’pemimpin’. Kata pemimpin tidak saja diartikan sebagai ’penguasa’ dalam pengertiannya yang umum. Pemimpin di sini bisa disematkan kepada setiap orang dengan profesi dan kedudukan yang beragam. Sebagai seorang suami misalnya, ia adalah ’pemimpin’ yaitu sebagai ’kepala keluarga’ yang bertanggung jawab atas anggota keluarga lainnya. Demikian seterusnya.

Jadi, makna ’pemimpin’ di sini tidak saja terbatas pada pemimpin formal, tapi juga pemimpin informal atau non formal.


Kepemimpinan, Antara Amanah Allah dan Masyarakat

Hidup adalah amanah. Semua apa yang ada di hadapan kita adalah amanah. Keluarga, masyarakat, jabatan, harta, pekerjaan, dan bahkan diri kita adalah amanah dan titipan dari Allah swt. yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Apabila amanah yang diembankan kepada kita belum terealisasi atau belum ditunaikan maka pemberi amanah akan menuntut kita di dunia dan di akhirat, sementara orang yang mempunyai hak pun akan menuntut walaupun itu adalah isteri/suami atau anak kita.

Demikian juga kepemimpinan. Ia adalah amanah Allah yang dianugerahkan kepada kita. Tugas kita adalah menunaikan amanah itu sesuai ketentuan Pemberinya. Tidak cukup bagi kita menunaikan amanah Allah dengan standar ”formalitas” dan ”rutinitas” belaka. Tapi, kita harus optimal dan mengerahkan seluruh kemampuan terbaik kita dalam menunaikannya.

Disinilah pentingnya seorang pemimpin memegang teguh asas profesionalitas. Profesionalitas diukur dari tingkat kemampuan menggunakan manajemen strategis dan manajemen operasional dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang diemban dengan cerdas, cermat, terukur dan produktif.  Seorang pemimpin tidak boleh ”asal-asalan” dalam melaksanakan tugas dan kewajiban kepemimpinannya. Ia harus benar-benar ahli. Kalau tidak, sebaiknya ia mengundurkan diri sebagai seorang pemimpin. Kalau diteruskan, ia akan terjebak pada anasir kontraproduktif yang justru akan merugikan dirinya dan pihak lain yang dipimpinnya. Pemimpin yang tidak profesional bisa dikategorikan sebagai pemimpin yang menyia-nyiakan amanah Allah.

Rasulullah saw. bersabda, “Apabila amanah telah disia-siakan, maka nantikanlah tibanya hari kiamat.’ Ada yang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan menyia-nyiakan amanah?’ Beliau menjawab, ‘Apabila perkara itu diserahkan kepada selain ahlinya, maka nantikanlah tibanya hari kiamat,’” (HR. Bukhari)

Sebagai amanah, kepemimpinan itu adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya terpilih. Kepemimpinan bukanlah semata hasil ”permintaan” seorang hamba kepada Allah. Karena itu, seorang pemimpin yang amanah, ia pasti akan memanfaatkan amanah kepemimpinannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, selain mendekatkan masyarakat yang dipimpinnya. Orientasi kepemimpinannya semata ”hanya untuk ibadah” kepada Allah dan meraih cinta-Nya. Dan, sama sekali tidak bertendensi pada usaha meraih kekayaan duniawi.

Karena itu, mustahil seorang pemimpin mampu bersikap amanah apabila tidak memiliki landasan kepatuhan dan keimanan kepada Allah. Sebab, sebab seorang pemimpin yang tidak memiliki kesadaran ketuhanan sangat tidak mungkin akan memandang amanah sebagai manipestasi dari menjalankan kepatuhan kepada Allah. Amanah kepemimpinan hanya akan tumbuh subur dalam diri seorang pemimpin yang benar-benar memiliki komitmen yang tinggi dalam menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Selain amanah Allah, kepemimpinan adalah amanah masyarakat. Ketika masyarakat mempercayai kita sebagai seorang pemimpin misalnya, itu artinya mereka meyakini bahwa kita dinilai mampu menjalankan amanah kepemimpinan. Dan, di pundak kita, mereka menaruh harapan besar untuk mampu membawa mereka kepada kesejahteraan hidup dan kehidupan.

Amanah masyarakat tidak bisa dibeli dengan uang. Kalau itu terjadi, sesungguhnya kita telah menipu dan membohongi masyarakat. Dan perjalanan kepemimpinan kita akan dipenuhi dengan kehidupan yang koruptif dan manipulatif. Kita akan mudah menyelewengkan amanah. Mimpi melahirkan masyarakat yang aman, adil, dan sejahtera, akhirnya hanya utopia belaka.

Pemimpin yang tidak amanah tidak lebih sebagai serigala yang siap ”memangsa” setiap orang yang ada di sekitarnya. Rasulullah bersabda, “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada merusaknya seseorang terhadap agamanya disebabkan ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi.” (HR Tirmidzi)

Karena itu, jangan sekali-kali kita meminta kepemimpinan itu kepada masyarakat. Apalagi sampai membelinya dengan ”uang”. Kepemimpinan yang diminta sesungguhnya jauh dari pertolongan Allah. Rasulullah saw. pernah menasihati Abdurrahman bin Samurah r.a. tentang hal itu, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Karena jika engkau diberi tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (oleh Allah dengan diberi taufik kepada kebenaran). Namun jika diserahkan kepadamu karena permintaanmu, niscaya akan dibebankan kepadamu (tidak akan ditolong).“(HR Bukhari)

Seorang pemimpin yang menyadari bahwa kepemimpinan adalah amanah Allah dan masyarakat, sudah bisa dipastikan ia maksimal dalam menunaikan amanah itu. Pemimpin tersebut tidak akan pernah menyelewengkan kepemimpinannya dari koridor yang ditetapkan Allah dan yang ditetapkan manusia melalui sebuah undang-undang, dan sebagainya. Ia akan maksimal memberikan pelayanan kepada Allah dan masyarakat yang dipimpinnya.

 

Menyerahkan Kepemimpinan Kepada yang Tidak Amanah

Menunaikan amanah Allah bukanlah pekerjaan ringan. Bahkan langit, bumi dan gunung tidak mampu mengembannya. “Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.” (QS Al Ahzab: 72)

Manusia diberi beban amanah karena ia memiliki kemampuan berbeda dengan benda-benda padat. Manusia memiliki hati dan akal pikiran, keimanan, perasaan kasih sayang, empati kepada sesama yang mendukungnya menunaikan amanah.

Amanah itu menentukan nasib sebuah bangsa. Jika setiap orang menjalankan tugasnya dengan penuh amanah dan tanggung jawab maka selamatlah mereka. Sebaliknya jika diselewengkan maka hancurlah sebuah bangsa. Sehingga Rasulullah saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya, “Bila amanah disia-siakan, maka tunggulah kehancurannya. Dikatakan, bagaimana bentuk penyianyiaannya? Beliau bersabda, ’Bila persoalan diserahkan kepada orang yang tidak berkompeten, maka tunggulah kehancurannya.’” (HR Bukhari dan Muslim).

Namun demikian, amanah itu memiliki tingakatan dan kadar berat ringannya. Beratnya amanah dipengaruhi oleh faktor kapabilitas dan ruang lingkup dan cakupan penunaiannya. Semakin tinggi kapabilitas seseorang, maka amanahnya semakin berat. Semakin tinggi jabatan seseorang dan semakin luas ruang lingkup tugasnya maka semakin berat pula amanahnya. Di sini bisa katakan bahwa amanah kepemimpinan adalah paling berat. Tak heran bila ayat-ayat Al-Quran yang memerintahkan amanah seperti di atas lebih ditujukan kepada para pemimpin, pejabat publik, dan penegak hukum. Karenanya, Islam memiliki perhatian besar terhadap masalah yang satu ini.

Karenanya, para ulama yang memiliki perhatian besar terhadap kepemimpinan dan politik Islam rata-rata memiliki buku khusus menguraikan hal ini. Ibnu Taimiyah misalnya memiliki buku Al-Ahkam as-Sulthaniyah (Hukum-hukum terkait kekuasaan). Di dalamnya Ibnu Taimiyah menguraikan urgensi kepemimpinan: ”Penunjukkan seseorang sebagai pemimpin merupakan salah satu tugas agama yang paling besar. Bahkan agama tidak akan tegak, begitu juga dunia tidak akan baik tanpa keberadaannya. Semakin tinggi cakupan kepemimpinannya semakin berat amanahnya.”.

Itu juga diperjelas dengan sabda Rasulullah saw., “Setiap kalian adalah pemimpin dan karenanya akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya. Amir adalah pemimpin dan akan nndiminta pertanggungjawaban tentang mereka. Lelaki adalah pemimpin di tengah keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan atas anak-anaknya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentangnya. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan diminta pertanggungjawaban tentang itu. Dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya.” (HR Bukhari-Muslim)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhoi Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.”

Jelasnya, jangan sekali-kali menyerahkan amanah kepemimpinan kepada seorang pemimpin yang tidak amanah, tidak ahli, tidak cerdas, tidak profesional, dan tidak memiliki kapasitas dan akuntabilitas publik yang tinggi. Karena hal itu hanya akan melahirkan kesengsaraan dan kehancuran bagi masyarakat yang dipimpinnya.

 

Catatan Akhir

Seorang pemimpin yang membangun dirinya di atas fondasi amanah kepemimpinan yang kokoh, ia ibarat sebuah pohon dengan akar yang kuat menghunjam ke bumi. Batangnya menjulang ke langit, dan rerantingnya rimbun dengan daun rindang.

Dengan akarnya yang kuat, ia tumbuh menjadi pemimpin yang percaya diri, tidak mudah goyah diterpa angin kritik, fitnah, tuduhan, dan ancaman. Dengan batangnya yang menjulang tinggi, ia menjadi pemimpin yang visioner, inovatif, dan kaya gagasan. Dan dengan rerantingnya yang berdaun rindang, ia bisa menjadi pelindung masyarakatnya dari berbagai ancaman, rasa takut, dan rasa panas.

Akhirnya, amanah kepemimpinan yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita haruslah kita jaga dan kita rawat dengan baik, dengan cara menyiraminya dengan keimanan yang teguh kepada Allah. Insya-Allah, amanah itu, pada akhirnya akan menjadi bagian dari jiwa kita. Wallâhu a’lam bis-showab.

 

Prenduan, 8 Januari 2009 

Comments
2 Responses to “Kepemimpinan Sebagai Amanah”
  1. hasan says:

    ^_^
    titik koment q., semoga tetap Pahalannya.,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: