Jam Malam

JAM MALAM

Malam itu seperti biasa laptop menyala dengan berbagai program yang berjalan. Microsoft Word dibuka untuk menulis Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) ditemani dengan AIMP2 yang memutar nada-nada harmoni. Tak lupa pula modem yang tercolok sehingga Google Chrome bisa berjalan untuk berselancar didunia maya. Tak ada yang berbeda, seperti biasa.

Ketika pertama membuka browser yang terbuka pasti halaman Facebook. Maklumlah, homepagenya Facebook. Halaman yang kedua biasanya adalah inicoretanku.wordpress.com (blog pribadi) untuk melihat perkembangannya atau sekedar Nge-Check sudah ada berapa orang yang berkunjung hari ini. Selebihnya kondisional lah, terkadang Kaskus, Goal.com, Youtube, atau paling tidak buka Google.

Ketika buka Facebook lagi rame tuh, mulai dari obrolan yang serius hingga obrolan tak begitu penting berisi sumpah serapah, ratapan, keluhan, dan macam-macam tingkah polah teman-teman yang terkadang membuatku geleng-geleng kepala. Ada yang menginspirasi, ada yang bikin ketawa, tak jarang pula ada yang bikin jengkel. Begitulah Facebook berbagai cerita ada  didalamnya. Silahkan kita ambil apa yang bisa dijadikan pelajaran dan buang jauh-jauh apa yang tidak bermanfaat dan bukan merupakan suatu kebaikan bagi kita.

Biasanya melihat notifications terlebih dahulu. Apa saja pemberitahuan terbaru dari yang berhubungan dengan akun kita. Mulai dari komen status, tag foto, kiriman wall dari teman, hingga postingan group yang kita ikuti. Mulai dari komen status, biasa saja tak ada masalah dan tak ada yang special. Kebetulan untuk tag foto tak ada. Ternyata ada kiriman Wall dari seorang teman, kubaca dan kukomen seadanya dan mulailah percakapan itu. Seringkali atau bahkan hampir dipastikan bahwa komentar yang diberikan sama sekali tidak berhubungan dengan isi status. Atau paling tidak komentar yang sedikit nyambung dengan isi status itu ya komentar ke-1, 2, 3, 4, 5. Selebihnya biasa sudah melenceng dari substansi status atau postingan yang dibuat. Begitulah ulah Facebookers (Sebutan bagi pengguna Facebook).

Kembali ke Jam Malam.

Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 21.30. Sudah cukup larut malam dan sudah melebihi aturan “jam malam” bagi seorang untuk menjaga interaksi dengan lawan jenis, baik itu didunia maya apalagi didunia nyata. Saya pun masih asyik menyimak beberapa komentar dari teman-teman di Group dan ikut dalam obrolan tak jelas dalam beberapa postingan teman-teman. Tiba-tiba ada Chat dari seorang sahabat, “JAM MALAM, Mohon interaksi dengan lawan jenis dibatasi” dan tidak sempat saya balas dia sudah Offline. Pikiranku mulai kemana-mana neh teringat dengan kata “JAM MALAM”. Seperti jaman dulu saja diberlakukan jam malam, warga tak boleh keluar ketika jam malam diberlakukan jika ingin keamanannya terjaga. Tapi itu jam malam ketika masih jaman dulu, masih jaman tak kondusif, masih ketika jaman perang, jaman PKI, jaman penindasan, dan jaman-jaman suram terdahulu. Tapi, jam malam yang satu ini hadir di masa kini, dan ini sensasinya berbeda :d.

Entah darimana aturan itu berlaku, sampai saat ini saya belum melihat dengan mata kepala saya sendiri redaksional tentang pertauran ‘JAM MALAM’ tersebut. Bagaimana pasal-pasal dan penjelasannya serta batasan-batasan dan konsekuensi bila hal tersebut dilanggar. Adakah yang bisa menunjukkan? Kalau ada saya akan sangat bersyukur sekali (^^,)v. Yang jelas yang saya pahami adalah pembatasan interaksi dengan lawan jenis dalam waktu tertentu (Malam) apalagi bagi seorang yang disebut kader dakwah *ups. Tapi herannya, entah karena sosialisasi yang kurang maksimal atau keengganan bagi yang memahami untuk mentaati regulasi “JAM MALAM” masih banyak teman-teman yang seharusnya mentaati tapi malah melanggar (Termasuk saya juga seh) *Ups Keceplosan.

Yang jelas, beberapa waktu lalu saya dapat teguran yang bisa dibilang cukup keras tentang regulasi “JAM MALAM”. Saya mencoba menyikapinya dengan positif saja, itu dilakukan karena masih ada yang perhatian denganku sehingga mengingatkan tentang regulasi “JAM MALAM”. Walau sangat susah untuk mengimplementasikannya dalam tindakan nyata. Atau mungkin karena saya terjebak dalm paradigm bahwa aturan itu diciptakan untuk dilanggar? *lhoo. Terutama jika dihadapkan dengan kalangan yang tak sepaham, masak iya saya harus menunggu hingga pagi hari untuk menaggapi apa yang sebenarnya bisa saya tanggapi saat itu juga. Hmm…

Sudahlah, tak perlu diributkan soal regulasi “JAM MALAM” yang penting kita bisa menjaga diri dari perbuatan dan prasangka-prasangka yang bisa menjerumuskan kita dalam hal kebatilan. Yang jelas regulasi “JAM MALAM” itu bermaksud baik, bukan untuk membatasi kita tapi untuk menjadi batasan bagi kita dalam berinteraksi terutama dengan lawan jenis. Semoga kita senantiasa bisa saling menjaga diri dan tetap saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. (Ribby Ahmad)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: