Kata Mereka Aku Kader Dakwah

Jilbab besar, celana cingkrang, jenggot dan kumis panjang, akhi, ukhti, afwan, tafadhol, syukron, serta istilah-istilah yang sepertinya melekat erat pada seseorang yang menyatakan diri sebagai kader dakwah. Seolah-olah didahi mereka-mereka yang memiliki karakter-karakter tersebut terpampang dengan tulisan jelas terbaca “Kader Dakwah”. Parahnya lagi seakan cap tersebut membuat jarak antara seorang kader dakwah dengan mahasiswa lainnya. Seharusnya kan tidak seperti itu?.

Jika kita masih risih bergaul dengan kalangan ammah maka sesungguhnya belum bisa dikatakan sebagai seorang kader dakwah sejati. Karena objek dakwah bukanlah orang yang berada di Masjid, Musholla, Kajian, Dauroh, atau agenda-agenda tarbawi lainnya. Objek dakwah kita yang sesungguhnya adalah teman-teman kita yang belum memahami islam dan belum menerapkannya sebagai pegangan hidup sehari-hari. Bahkan, yang lebih ekstrem lagi sesungguhnya objek dakwah utama kita adalah orang yang belum berislam alias orang kafir.

Masih banyak saudara-saudara kita yang belum berjilbab, atau sudah berjilbab namun masih salah dalam tata cara berjilbab yang benar, masih banyak teman yang belum sholat, ataupun sholat tapi masih sering telat. Masih banyak pula teman kita yang suka berkata kotor, hura-hura, atau bahkan mungkin melakukan maksiat-maksiat yang tentunya sangat kita benci dan kita tahu bahwa itu semua merupakan perbuatan yang dibenci Allah. Lantas, apakah yang kita lakukan?. Membiarkan mereka dengan ketidaktahuan mereka, kita lebih memilih jalan aman dengan bergaul hanya bersama orang-orang yang di Mushola, Masjid, atau Majlis Kajian?. Tentu tidak seperti itu bukan?

Ada perumpamaan yang bagus sekali seperti: “Bergaul dengan berbagai warna namun tidak melebur dan tidak terwarnai” atau “Jadilah seperti ikan di lautan yang tetap saja tawar meskipun berada ditengah asinnya air laut”. Menjadi seorang kader dakwah bukan halangan bagi kita untuk membatasi pergaulan kita. Kita tidak dilarang dan bukan merupakan hal yang tabu bagi kita untuk bergaul dengan teman-teman kita yang merokok, gitaran sambil nyanyi-nyanyi bersama, nongkrong di warung kopi, atau bahkan menggosip di gazebo membicarakan hal-hal yang tidak penting bahkan menjurus dalam menggunjing orang lain. Asal, yang perlu kita pahami adalah kita harus menjaga diri dengan baik agar sampai kita jangan terpengaruh oleh mereka-mereka semua dan melakukan hal-hal yang kita yakini itu merupakan perbuatan yang tidak bisa dibenarkan.

Masih teringat jelas bagaimana ketika debat terbuka Pemira beberapa bulan lalu. Disana disinggung masalah celana kain, celana jeans, kaos oblong, dll. Adakah yang salah dengan celana jeans atau kaos oblong, Tidak ada bukan?. Seorang kader dakwah itu tidak harus selalu dengan pakaian kemeja, celana kain, dicingkrang pula. Kita harus bisa berpakaian stylish dengan batas-batas syar’i. Ingat aurat kita, ingat etika, dan juga ingat bahwa kita semua sudah terlanjur di cap kader dakwah. Jangan sampai karena perbuatan kita yang hanya oknum saja membuat anggapan masyarakat terhadap kader dakwah menjadi miring. “Oh ternyata kader dakwah seperti itu?, Katanya kader dakwah tapi kok kelakuannya seperti itu”. Kita ini sudah terlanjur dituntut menjadi seorang yang sempurna laksana malaikat. Padahal seharusnya mereka mengerti bahwa kita ini manusia biasa yang juga tak lepas dari salah dan khilaf. Sedikit saja kelakuan kita yang dianggap jelek maka jeleklah kita dimata mereka. Namun, begitu banyak kebaikan-kebaikan yang coba kita contohkan sangat sulit sekali untuk ditiru atau bahkan mereka teladani. Yah, begitulah tantangannya memang sebagai seorang yang menahbiskan diri sebagai seorang kader dakwah.

Saya disini bukan untuk menggurui atau menasehati. Karena saya bukanlah siapa-siapa dan ilmu saya juga belum seberapa bahkan bisa dikatakan saya miskin ilmu. Namun, disini saya hanya mencoba memaparkan apa yang ada dalam pikiran saya pribadi. Syukur-syukur bisa bermanfaat dan bisa menjadi pengingat bagi saya pribadi dan kita semua. Karena sebagai sesama manusia kita harus saling mengingatkan pada kebaikan dan kesabaran. Wallahua’lam (ribbyahmad)

Comments
5 Responses to “Kata Mereka Aku Kader Dakwah”
  1. Yang Bertanya says:

    Ingin bertanya bang Ribby,

    1. Kumis panjang melekat pada kader dakwah? Kok setahu saya malah kader dakwah tidak memelihara kumis, karena katanya makruh ya?

    2. Terus, kok kader dakwah ada embel2 “celana cingkrang”nya? Pastinya ada alasan kenapa mereka celana cingkrang, n memilih tetap “mencingkrangkan” celananya

    3. Setuju sama “tidak melebur”nya. Hanya saja “…atau bahkan menggosip di gazebo membicarakan hal-hal yang tidak penting bahkan menjurus dalam menggunjing orang lain. ” tetap tidak boleh lho. Takutnya yang mendengar dapat limpahan dosa juga😀

    • Ribby Ahmad says:

      Nah, ini nih yang saya suka ^_^
      Biar ada yang ngoreksi kalau-kalau coretan saya salah =D
      Maklum, miskin ilmu dan masih belajar ^^v

      1. Ustadz2 saya sebagian besar memelihara kumis dan jenggot yg lebat. Jadi, karena sebagian besar Ustadz2 yang saya kenal itu memelihara kumis maka itu bisa dijadikan salah satu karakter dari seorang kader dakwah. Saya balik bertanya, kata siapa makruh kalau memelihara kumis? Kok saya baru tahu yaa? Benar-benar miskin ilmu saya ini -__-”

      2. Setahu saya ada riwayat yang menyebutkan bagi barang siapa yang memakai pakaian yang melebihi mata kakinya maka sesungguhnya dia termasuk orang yang sombong. Hanya saja saya lupa bagaimana redaksinya dan siapa yang meriwayatkan.a. Lagi-lagi miskin ilmu -___-”

      3. Sepakat, kita tidak boleh mendengarkan obrolan-obrolan mereka. Namun, yang saya maksudkan disini adalah kita juga harus bergaul dengan mereka-mereka yang memiliki kebiasaan seperti itu. Bukan ikut nge.gosip ^^v

      Mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, Yaa itulah kalau ilmunya masih sedikit dan masih belajar ^^v. Terima kasih atas kunjungan.a =)

  2. Sarsiyani says:

    Subhanallah, mengispirasi🙂
    syukron akh😀

    Hehe, afwan akh, yg mau ana tanyakan
    “Jika kita masih risih bergaul dengan kalangan ammah maka sesungguhnya bisa dikatakan sebagai seorang kader dakwah.”kedua)
    (paragraf
    ini mksdnya ky gmna?😀
    syukron😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: