Drama Itu Berjudul BBM

Panggung politik negeri ini beberapa waktu lalu menyajikan drama kolosal yang bertemakan tentang rencana kebijakan menaikan BBM. Semua elemen rasanya turut ambil peran dalam issue yang selalu menjadi pembicaraan hangat di Masyarakat disetiap masanya. Siapapun pemerintahannya, ketika issue kenaikan BBM naik maka akan timbul dinamika dengan berbagai reaksi yang ditimbulkannya. Ada yang berperan sebagai protagonis, mendukung kebijakan kenaikan BBM dengan berbagai alasan. Ada juga yang berperan sebagai antagonis, menolak dengan keras kebijakan kenaikan BBM dengan berbagai data dan fakta sebagai pendukung bahwa kenaikan BBM itu tidak tepat untuk dilakukan. Ada pula yang bersikap acuh, golongan ini menganggap bahwa mau naik ataupun tidak itu tidak akan mempengaruhi banyak dalam kehidupannya. Begitulah issue kenaikan BBM yang akan selalu menjadi topic yang “panas” untuk dibicarakan.

Sangat menarik jika mengamati dan mengikuti perjalanan drama tersebut akhir-akhir ini. Mulai dari banyaknya pihak yang mencoba untuk mengambil kesempatan ini untuk menimbun BBM dengan harapan nantinya bisa dijual dengan harga baru yang tentunya lebih tinggi sehingga keuntungan mereka bisa berlipat. Ada pula keresahan masyarakat karena dengan kenaikan harga BBM maka itu akan diikuti dengan kenaikan harga-harga pokok yang lainnya. Karena memang BBM memiliki pengaruh yang sangat besar bagi berputarnya roda perekonomian negeri ini. Ada pula yang sibuk berdemonstrasi menentang rencana kenaikan BBM dengan harapan pemberi kebijakan berpikir ulang untuk merealisasikan rencananya. Golongan ini biasanya terdiri dari Mahasiswa yang dengan sifat idialisnya tergerak untuk mengontrol kebijakan pemerintahan. Mereka biasanya mengatasnamakan rakyat dibalik segala aksinya. Ada pula para buruh yang gelisah jika benar-benar kebijakan tersebut disahkan maka kemungkinan besar akan ada PHK disana-sini. Karena perusahaan tidaklah punya banyak pilihan dengan kenaikan BBM berarti biaya produksi akan menjadi meningkat, konsekuensinya adalah menaikkan harga barang atau menekan jumlah pengeluaran produksi dari sektor pegawai. Dan tampaknya pilihan terakhir yang akan menjadi pilihan yang diambil.

Para awak media pun seakan tak ketinggalan untuk mengambil perannya sebagai pihak yang memberitakan dan menginformasikan seputar issue ini. Hampir setiap hari issue ini menjadi headlines utama. Mereka menyajikan informasi-informasi yang aktual yang selalu dinanti oleh masyarakat yang sangat haus dengan informasi masalah kenaikan harga BBM ini. Begitu vitalnya peran media ini sehingga jika media tidak independent maka dengan mudah mereka bisa menggiring opini publik sesuai dengan kepentingan mereka. Sebagai pembaca maka harus bisa melihat secara objektif berita-berita yang disajikan para awak media. Kalau tidak, bisa terbawa arus dan mudah terprovokasi. Selain itu, media juga menyajikan lakon dibalik layar panggung sesungguhnya. Mereka menyajikan dinamisasi aktor-aktor dibalik penentu kebijakan di negeri yaitu para politikus-politikus dengan baju kebesaran mereka. Ada aktor golongan anggota koalisi, ada juga yang oposisi, dan ada pula yang mengambil peran sebagai orang independent dengan profesionalitas yang dimilikinya.

Semakin dekat dengan jatuh tempo kebijakan, maka suhu yang ditimbulkan pun semakin meningkat. Aksi demonstrasi semakin gencar dilakukan, tak jarang bisa dilakukan sampai berkali-kali dalam sehari. Konflik pun terkadang tak bisa dihindari karena panasnya suhu yang ada. Pertemuan-pertemuan dan lobby-lobby elite politik negeri ini pun semakin intens dilakukan. Partai-partai politik pun berlomba-lomba menyatakan sikapnya dihadapan rakyat. Mereka benar-benar memanfaatkan momentum ini untuk lebih dekat dengan rakyat sebagai konstituen mereka. Begitulah drama yang disajikan oleh panggung politik berjudul rencana kenaikan harga BBM.

Akhirnya drama ini sudah sampai pada ujung cerita. Rencana kenaikan BBM tinggal rencana. Para penentu kebijakan akhirnya memutuskan untuk “menunda” kenaikan BBM dengan berbagai alasan dan dinamikanya yang tersaji dalam rapat anggota  “wakil rakyat” di gedung dewan sana. Layaknya sebuah kompetisi maka akan ada pihak yang “menang” dan “kalah” dalam mewujudkan kepentingan-kepentingannya dalam kebijakan-kebijakan yang diambil. Dan layaknya sebuah cerita yang berhasil menyedot jutaan perhatian dari seluruh pelosok negeri ini, maka lakon ini tidak akan berhenti sampai disini. Akan ada cerita-cerita selanjutnya dalam episode “Kenaikan BBM – Season 1”, “Kenaikan BBM – Season 2”, “Kenaikan BBM – Season 3”, dst. (@ribbyahmad)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: