Transformasi Penampilan

Membuka album berisi foto-foto lama membuat saya seakan terbang ke masa lalu mengingat hal-hal yang terjadi dan pernah kualami. Ketawa, senyum, dan terkadang berpikir “ternyata dulu aku pernah seperti ini, ternyata dulu aku pernah kesini, ternyata aku dulu pernah begini” dan sekelumit perasaan yang campur aduk bisa dirasakan kalau kita sudah bernostalgia dengan masa lalu. Apapun itu, pahit ataupun manis. Masa lalu adalah masa yang pernah mewarnai hidup kita dan akan ada banyak pelajaran yang bisa diambil. Bagiku, masa lalu akan tetap selamanya indah.

Jika melihat foto-foto dulu maka saya akan tersenyum-tersenyum sendiri, bagaimana penampilan saya yang jauh berubah. Mulai dari yang paling jelas terlihat yaitu berat badan (hehehehe) hingga kebiasaan dalam hal kostum keseharian. Kalau melihat fotoku saat masih bayi, saya terlihat lucu dan menggemaskan (XD) kulit saya putih, rambut hitam tipis, dan senyum yang tak pernah ketinggalan. Beranjak besar, kira-kira umur 2-3 tahun tiba-tiba saya terlihat sangat gemuk dilihat dari usia saya. Kata ummi, dulu saya memang pernah berbadan gemuk dan itu tak bertahan lama karena berat badan saya banyak menyusut dikarenakan sakit. Lebih besar lagi maka saya mendapatkan gambar yang menunjukkan bahwa saya terlihat sangat kecil sekali. Itu ketika saya masih SD, terlihat sekali perbedaan antara saya dan teman-teman. Kurus, pendek, dan style yang dulu sangat saya suka adalah memakai topi. Itu adalah gambaran bagaimana saya dulu dari bayi hingga usia SD.

Menginjak SMP tentunya sudah banyak perubahan yang kualami. Mulai dari tumbuhnya jakun yang sangat terlihat jelas di beberapa foto hingga postur tubuh yang mulai meninggi walaupun tetap saja masih terhitung “kecil” daripada teman-teman sebaya. Berkenaan dengan masalah kostum, dulu saya termasuk orang yang sangat irit dalam berbusana. Bagaimana tidak, hampir seluruh baju saya itu adalah baju warisan dari kakak-kakak dan saudara-saudara saya yang lain. Dan itu bukan merupakan suatu masalah bagi saya karena memang saya tidak terlalu meributkan hal-hal yang seperti itu. Dan menjelang akhir masa SMP baru jiwa protes dan memberontakku muncul. Kubilang sama abah ummi, saya tidak mau lagi pakai pakaian warisan saya mau beli saja. Dan abah ummi pun mempersilahkan saya untuk membeli pakaian yang saya suka dan pilih sendiri. Dari sinilah budaya konsumtif saya terhadap busana dimulai =D.

Awal-awal masuk SMA koleksi busana saya terasa sangat banyak sekali. Itu terlihat dengan banyaknya koleksi label-label pakaian yang saya punya. Karena saya termasuk orang yang suka menyimpan label barang apapun yang saya beli. Mulai dari label sepatu, tas, celana, baju, hingga struk belanja bulananpun pernah saya koleksi. Saya sudah biasa berbelanja bulanan karena memang ketika kelas 3 SMP saya kost ditempat saudara. Di kelas IX saja saya punya sekitar 4-5 jaket dan kebanyakan model “Jumper” karena memang saat itu lagi nge.trend. Dan yang paling banyak tentu saja adalah Kaos alias T-Shirt. Sampai-sampai saya pernah ditegur sama abah, “kaosmu sudah banyak, tuh lihat lemari sampe’ penuh kayak gitu masih saja beli kaos terus”. Karena ditegur seperti itu, maka setiap kali saya beli kaos maka tak pernah sekalipun memperlihatkan pada abah (hehehehe).

Celana jeans, sepatu kets, kaos oblong, dan akseso gelang ditangan adalah style saya saat masih duduk di SMA. Kalau memakai kalung, insyaAllah saya tidak pernah memakainya karena memang tidak begitu suka. Warna dari fashion items yang saya punya pun tak banyak variasinya. Hanya terdiri dari hitam, putih, abu-abu, dan beberapa warna seperti merah, hijau tua dan biru. Pernah juga memakai anting-anting non-permanen karena bisa dibongkar-pasang dan saya sekarang berpikir betapa konyolnya saya dulu hingga memakai anting-anting segala. Kalau kata orang jawa sich, “nggilani”. Dibeberapa foto terlihat saya memakai celana jeans ketat warna hitam, sepatu kets dengan moncong berwarna putih, T-Shirt hitam dan gelang ditangan. Itu style “Gue Banget” dah. Ingat tentang sepatu kets kesayangan, saya jadi sedikit menyesalkan kenapa saya harus kehilangan sepatu karena tertinggal ketika tampil pada Festival Band antar pelajar se-Madura di Sumenep. Padahal itu sepatu kets adalah salah satu koleksi sepatu kesayangan.

Gelang karet berwarna hitam dengan jumlah 5-10 biji menjadi koleksi yang tak pernah lepas dari tangan saya. Walaupun sering sekali terkena razia guru di Sekolah dan juga sindiran-sindiran dari abah ummi di rumah tapi tetap saja saya cuek tetap memakainya. Dan gelang karet tetap saya pakai hingga awal-awal kuliah dulu. Saya baru berhenti memakainya karena ada seseorang yang melarang saya memakai gelang karet dan saya mematuhinya begitu saja dan Alhamdulillah sampai saat ini saya tak pernah lagi memakai gelang karet. Dalam hati berkata, “Gila, ternyata dulu saya pernah sedikit “ekstrem” dalam berbusana” apalagi jika dibandingkan dengan style saya sekarang. Bak langit dan bumi, Beeeeh sangat jauh perbedaannya.

Kini sekarang usia saya sudah berkepala dua. Tentunya style saya sudah berubah drastis mengikuti perkembangan usia saya (hehehehe). Kata beberapa orang style saya sudah seperti “bapak-bapak” kantoran. Sempat risih juga dibilang seperti itu, saya kan masih muda. Lagian kalau dibilang bapak-bapak maka saya pasti akan galau memikirkan “Dimana Ibunya?” Whahahahaha. Kemeja, celana kain, jam tangan, itulah item yang sering saya pakai. Ada banyak hal yang berubah dari penampilan saya sekarang dan ada beberapa hal yang tetap saya pertahankan sampai sekarang. Dari dulu saya tidak begitu suka menyisir rapi rambut, lebih suka dibiarkan terlihat acak-acakan. Jadi biasanya setelah disisir maka saya akan sedikit “merusak” tatanan rambut hasil sisiran sebelumnya. Dan yang baru dari penampilan saya adalah adanya Jam tangan yang melingkar dan tak pernah lepas dari pergelangan tangan kecuali lagi tidur, mandi, wudlu, dan kalau tidak ketinggalan di kamar.

Melihat foto jaman dulu dan sekarang dan mencoba membandingkan antara keduanya maka akan sangat jelas perbedaan antara keduanya. Gila, saya sekarang terlihat gemuk sekali dibandingkan dulu. “Ternyata saya dulu kurus dan kecil banget ya?”, tapi saya beranggapan tubuh saya yang sekarang masih dalam batas toleransi laah, tidak terlalu gede-gede amat (=D). Beberapa kali ingin rasanya kembali ke style lama, tapi ingat umur juga (=D). Tapi saya insyaAllah bukan termasuk orang yang kaku dalam berbusana jadi fleksibel saja yang penting saya merasa nyaman dan tidak melanggar norma dan aturan-aturan. Jadi, jangan kaget jika suatu saat nanti style saya tiba-tiba berubah lagi. Hahahahaha.

Semoga menginspirasi dan kalau ada yang bermanfaat silahkan diambil jangan sungkan-sungkan, dan kalau ada yang buruk “Don’t Try This At Home”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: