Menjadi Muslim Mandiri Finansial

Dalam mengarungi samudera kehidupan yang panjang ini, tentulah kita hanya mendedikasikannya hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat:56 yang artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. Ibadah disini mengandung makna yang luas, tidak hanya berupa ibadah-ibadah yang bersifat ritual seperti shalat, puasa, haji, ataupun zakat. Dalam setiap perbuatan yang kita lakukan jika itu diniatkan untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah maka sesungguhnya kita telah mendapatkan pahala atas perbuatan yang kita lakukan sesederhana apapun itu.

Tentunya mencari rezeki juga termasuk didalam perbuatan jika kita menyertakan Allah dari setiap ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan. Seperti yang terdapat dalam surat Al-Jumu’ah: 10 yang artinya: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung’. Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa kita sebagai manusia diperbolehkan untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari ridha Allah (Rezeki) dengan catatan harus tetap mengingat dan menyertakan Allah dalam segala ikhtiar yang dilakukan.

Allah memerintahkan kita untuk tidak hanya mengejar kebahagiaan di akhirat saja, tetapi Allah memerintahkan kita untuk tidak melupakan urusan dan kebahagiaan duniawi dan terus harus mencari seluas-luasnya anugerah yang dikaruniakan Allah . Seperti firman Allah dalam surat Al-Qashash:77 yang artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Tentunya antara kehidupan spiritual dan finansial kita haruslah seimbang. Urusan akhirat jalan terus tanpa melupakan dan menafikan urusan duniawi. Hanya saja jangan sampai salah satu diantaranya menyebabkan diri kita lupa kepada Allah yang maha pemberi rezeki. Karena sudah banyak contoh orang yang hanya memikirkan aspek ukhrowinya saja tanpa peduli untuk memperbaiki aspek duniawinya. Pun sebaliknya banyak juga yang terlalu sibuk mengurusi urusan duniawi tanpa memperdulikan aspek-aspek ukhrowi yang harus ada disetiap sendi-sendi kehidupan manusia sebagai makhluk dan hamba yang diciptakan untuk beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam surat Adz-Dzariyat:56 tadi.

Sangat penting sekali bagi kita untuk menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas dan ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan, terutama dalam urusan finansial. Karena bisa jadi kita dibuat lupa kepada sang maha pemberi rezeki akibat dari besarnya keuntungan dan finansial yang kita dapatkan. Menjaga keseimbangan antara aspek ukhrowi dan duniawi juga bisa dilakukan dalam ikhtiar kita mencari rezeki didalam pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan.

Karena bisa jadi secara finansial (duniawi) kita mengalami keuntungan, tetapi secara spiritual (ukhrowi) kita tidak mendapatkan apa-apa. Allah telah mengingatkan kita dengan mencontohkan riba yang tertuang dalam surat Ar-Rum:39 yang artinya: “Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)”. Ayat tersebut menggambarkan kepada kita bahwa boleh saja harta hasil riba menambah pundi-pundi kekayaan kita secara finansial, namun hal tersebut tidaklah menjadi penambah barokah disisi Allah karena riba merupakan sesuatu hal yang tidak diperbolehkan dalam ajaran agama Islam.

 

Mengapa Harus Mandiri Finansial?

Sebagai seorang muslim sudah seharusnya menjadi seorang yang mandiri secara finansial. Tidak cukup lagi jika hanya mengurusi masalah-masalah ukhrowi dan melupakan –entah sengaja atau tidak- urusan-urusan yang bersifat duniawi seperti masalah finansial. Karena hal tersebut sudah diperintahkan oleh Allah dalam Al-Qur’an dan tiada lagi keraguan sedikitpun diatasnya.

Bagaimana mungkin bisa tenang beribadah jika diri kita, keluarga kita yang kita sayangi masih harus memikirkan bagaimana caranya untuk agar bisa makan hari ini. Bagaimana mungkin kita bisa tenang dalam beribadah kepada Allah dikala saat yang sama kita harus memikirkan cara bagaimana untuk bisa mendapatkan uang yang akan digunakan untuk menebus obat-obatan yang harus diminum oleh orang tua kita yang sakit-sakitan. Tentunya sedikit banyak masalah finansial memiliki pengaruh walaupun mungkin tidak secara langsung. Alangkah sempurnanya kebahagiaan kita jika kita bisa memenuhi 2 aspek yang penting dalam hidup kita yaitu aspek duniawi yang bisa berupa finansial dan juga aspek ukhrowi yang berhubungan dengan hubungan dan ketaatan kita kepada sang maha pemberi rezeki.

Karena dalam beberapa hal kita tidak mungkin bisa melakukan suatu ibadah tanpa dukungan dari finansial yang kita miliki. Contohnya adalah bagaimana kita bisa menunaikan zakat jika untuk makan hari ini saja kita harus berpikir keras bagaimana cara mendapatkannya?. Bagaimana kita bisa menunaikan ibadah haji jika untuk tempat tinggal saja kita masih harus pindah kontrak sini kontrak sana?. Bagaimana kita bisa menikmati bagaimana nikmatnya bisa bersedekah kepada yatim piatu jika kita sendiri malah masih mengharap belas kasih dan uluran tangan saudara-saudara kita yang lain?. Artinya adalah mandiri secara finansial juga bisa menjadi penunjang bagi kita untuk melaksanakan ibadah-ibadah dan bentuk pengabdian kita kepada Allah SWT.

Dengan mandiri secara finansial kita juga bisa membantu keluarga dan kerabat terdekat kita yang lain dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Alangkah senangnya bisa membahagiakan diri sendiri dan orang-orang terdekat kita yang kita sayangi. Seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Dahulukan dirimu, lalu bersedekahlah atas dirimu. Jika ada sisanya, maka untuk keluargamu. Jika masih ada sisa setelah untuk keluargamu, maka peruntukkan bagi kerabatmu yang lainnya. Jika masih ada sisa lagi, maka demikian dan demikian”. (HR. An-Nasa’i)

 

Memerangi Kefakiran

Akan tetapi apabila kita melihat realitas yang terjadi saat ini, disaat masih banyak saudara-saudara kita yang masih terbelenggu oleh kemiskinan. Hal ini tentu saja sangat menyakitkan bagi kita ketika melihat orang-orang mengais-ngais tong sampah hanya untuk mencari sisa-sisa makanan yang sungguh sudah sangat tidak layak untuk dikonsumsi kucing sekalipun. Ketika kita melihat banyak adik-adik kita yang tidak merasakan bagaimana nikmatnya menikmati bangku pendidikan. Ketika masih banyak saudara-saudara kita yang hidup beratap langit dan beralaskan bumi. Sungguh itu seharusnya menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi kita. Apa yang bisa kita lakukan untuk mereka?

Yang pertama dan mungkin yang termudah adalah memastikan bahwa kita bukanlah termasuk dari golongan-golongan orang yang tidak beruntung seperti yang saya contohkan diatas. Disamping tentunya kita berusaha dan berikhtiar untuk selaku memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita untuk menjadi seorang yang mandiri secara finansial yang pada akhirnya nanti kita bisa memberikan suatu bantuan dan tindakan yang nyata untuk membantu saudara-saudara kita yang nasibnya kurang beruntung tersebut.

Entah sudah berapa ribu orang yang dengan sangat terpaksa menggadaikan dan menjual akidahnya hanya demi beberapa bungkus mie instans dan sekarung beras untuk bekal makan mereka yang mungkin hanya cukup untuk beberapa hari saja. Mereka menukarkan itu semua dengan akidah yang mereka miliki sehingga dengan sangat terpaksa mereka membaptiskan diri untuk berpindah keyakinan. Bukannya mereka tidak memiliki keinginan untuk mempertahankan akidah mereka, tetapi mereka hanya tidak memiliki banyak pilihan. Pilihannya adalah menerima bantuan dengan harus menggadaikan akidah atau mati konyol kelaparan karena sedikit sekali dari saudara-saudaranya yang memperhatikan nasib mereka. Itu semua nyata kawan, itu semua ada disekitar kita. Masihkah kita mau menutup mata terhadap fenomena ini?.

Fenomena yang banyak terjadi disekeliling kita tersebut cukuplah menjadi bukti bahwa kefakiran sangatlah dekat dengan kekufuran memang sangatlah benar adanya. Sampai khalifah Ali Bin Abi Thalib pernah berkata bahwa: “Andai saja kemiskinan itu berwujud seorang manusia, maka aku tidak akan segan-segan untuk membunuhnya”. Kemiskinan adalah suatu permasalahan pelik yang harus dipecahkan dan dilawan agar tidak semakin banyak korban pemurtadan dengan alasan finansial, tidak lagi banyak orang yang bersedia menggadaikan akidahnya demi apa yang akan ia makan. Itulah tantangan dan kenyataan yang harus kita hadapi kawan.

Teringat ada sebuah kalimat yang cukup inspiratif dari seorang Donald Trump yaitu “Jika anda terlahir dalam keadaan miskin, maka itu bukan salah anda. Tetapi jika anda mati dalam keadaan miskin maka itu adalah kesalahan anda”. Yuk mulai sekarang mari kita sama-sama belajar untuk menjadi seorang muslim yang mandiri secara finansial.

 

“Yaa Allah, cukupkanlah aku dengan (rezeki) halal-Mu dan

Jauhkanlah aku dari (rezeki) haram-Mu, dan

Berikanlah kekayaan kepadaku dengan karunia-Mu, bukan dari selain-Mu”

(HR. At-Tirmidzi)

Mandiri FInansial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: