Sebuah Catatan Hari Pers Internasional

Memang tak sebingar Hari Buruh 1 Mei, tak juga sesemarak Hari Pendidikan Nasional 2 Mei lalu. Wajar jika mungkin tak banyak yang tahu bahwa tanggal 3 Mei kemarin adalah Hari Pers Internasional. Hari Kebebasan Pers Dunia diberlakukan sejak tahun 1993 oleh Majelis Umum PBB. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kebebasan media seluruh dunia dan memberi penghargaan kepada para wartawan yang telah gugur dalam melaksanakan tugas.

Kebebasan pers di Indonesia saat ini sepertinya sudah semakin baik dari tahun ke tahun, terhitung sejak reformasi pada tahun 1998 yang meruntuhkan rezim orde baru. Rezim orde baru memang dikenal sangat tidak bersahabat bagi kebebasan pers, dimana segala bentuk informasi terutama media massa harus terlebih dahulu “lulus sensor” sebelum diterbitkan. Jika ada informasi yang tendensius dan cenderung merugikan pemerintah maka jangan harap bisa terbit dan “lulus sensor”. Akan tetapi saat ini pers sudah mendapatkan kebebasannya dalam menyampaikan informasi tanpa harus sensor sana sensor sini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Freedom House, Indonesia menempati urutan ke-98 dari seluruh dunia dan urutan ke-22 di kawasan Asia-Pasifik dalam hal kebebasan pers. Fakta ini tentunya menjadi sebuah “prestasi” bagi pers di seantero negeri ini.

Kebebasan pers disini tidaklah diartikan bebas sebebas-bebasnya. Informasi yang disampaikan haruslah sesuai dengan kode etik jurnalis dengan mengedepankan kevalidan berita yang disampaikan. Kebebasan disini bukan berarti bebas menyampaikan informasi walaupun belum bisa dibuktikan kebenarannya. Bukan juga menyampaikan berita dengan maksud menguntungkan atau menjatuhkan pihak-pihak tertentu.

Hal inilah yang menjadi tantangan dan harus dijawab oleh rekan pers. Bagaimana pers harus bisa menjadi penyampai informasi-informasi yang akurat tanpa iming-iming apapun. Apalagi sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak media berita baik itu cetak ataupun elektronik dimiliki oleh para elit politik negeri ini. Sehingga kekhawatiran akan tidak berimbangnya informasi yang disampaikan selalu menghantui para pembacanya. Apalagi sekarang tahun 2014 yang merupakan tahun politik, suka tidak suka mau tidak mau segala hal yang menjadi berita sangat rawan unsur politiknya. Baik itu meninggikan “tuan” yang didukungnya, atau menjatuhkan yang menjadi lawan bagi “tuannya”.

Kebebasan Pers

Kebebasan Pers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: