Beribadah Kok Disuruh Bayar?

Dalam tulisan kali ini saya mungkin akan sedikit menggunakan gaya kepenulisan yang berbeda dari gaya yang biasanya saya pakai. Karena menulis itu bagi saya tidak ada rumusnya, hanya cukup menuliskan apa saja yang ada dipikiran kita. Perkara alur, tata bahasa, susunan kata, susunan kalimat, dan segala tetek bengek lainnya itu urusan nomer sekian, yang terpenting kita harus memastikan bahwa apa yang ada dipikiran kita tertuliskan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami.

Menulis itu perlu pembiasaan, bahkan mungkin pada awalnya harus dipaksakan. Ya, seperti saya yang saat ini mengharuskan pada diri saya sebisa mungkin untuk menulis minimal dalam satu Minggu yang saya lewati menghasilkan satu buah tulisan. Dulu sempat berkeinginan sehari minimal menghasilkan satu tulisan, tapi itu tak bertahan lama karena kewalahan dengan banyaknya kesibukan lainnya. Ah, saya pikir tak ada salahnya kalau bikin satu tulisan tiap minggunya.

Tema tulisan saya kali ini adalah tentang beribadah itu perlu duit. Ide untuk menuliskan tentang hal ini saya dapat saat sibuk mantengin timeline twitter yang isinya pada ngomongin soal capres-cawapres. Bosen juga sih lihatnya, tapi yaa mau bagaimana lagi memang saat ini musimnya pemilu. Ada satu tweet yang menarik yang saya baca disela-sela tweet yang saling mengunggulkan capres yang didukungnya. Dalam tweet itu intinya menyebutkan bahwa ada seseorang yang pernah mengalami disuruh membayar ketika dia habis berwudlu di suatu daerah di Kota Bandung. What? Berwudlu saja harus membayar?.

Awalnya sih saya mikir, “Duh kebangetan nih orang, masak wudlu aja disuruh membayar”. Padahal kita wudlu kan untuk beribadah kepada Allah, masak harus bayar sih? Matre banget. Tetapi, setelah itu saya berpikir positif dan menerima kenyataan bahwa itu memang sudah terjadi ditengah masyarakat kita walau memang belum banyak ditemui yang seperti itu, tapi kita juga harus bersiap sedia dan jangan kaget jika suatu saat hal yang seperti itu sudah menjadi suatu kewajaran ditengah masyarakat kita.

Hidup di zaman yang menjunjung tinggi materialisme saat ini memang penuh tantangan, ketika banyak hal dari kehidupan kita yang diukur dengan materi (uang). Kita harus berdamai dengan keadaan dan menerima bahwa inilah realitas kehidupan yang harus kita hadapi saat ini. Bagaimana hampir segalanya diukur dengan uang, kita ingin ini itu harus punya uang, uang uang dan uang. Dan dalam urusan kita dengan Allah sang pencipta pun kita membutuhkan uang. Seperti contoh kasus diatas, berwudlu saja sekarang harus membayar.

Sebenarnya kebutuhan akan materi (uang) dalam upaya kita beribadah kepada Allah bukanlah hal baru dan istimewa bagi kita. Bahkan sejak zaman Nabi pun dalam beberapa ibadah mengharuskan mempunyai modal untuk bisa menjalankannya. Misalkan, untuk menunaikan Zakat bukankah kita butuh materi? Membeli pakaian untuk menutup aurat agar shalat kita sah juga perlu uang. Menunaikan ibadah haji juga butuh uang yang tak sedikit jumlahnya. Jadi, mengapa kita harus kaget ketika berwudlu harus membayar?

Saat ini sudah umum kita temukan mandi bayar, buang air kecil bayar, buang air besar bayar, etc. Jangan terburu berburuk sangka kenapa harus membayar, kan bisa saja uang yang kita bayarkan itu untuk biaya perawatan, biaya membeli air, dan biaya lelah orang yang mengelola, dan ribuan alasan untuk kita berkhuznudzon kepada saudara kita. Dan jangan heran juga kalau kita mendengar kabar bahwa untuk shalat kita harus membayar. Yaah, memang kedengarannya sangat ekstrem sekali, masak shalat aja harus bayar?. Jangan salah, di bumi belahan lainnya hal itu bisa saja terjadi, dimana agama islam menjadi minoritas dan tidak ada fasilitas umum berupa Masjid, untuk melaksanakan kewajiban shalat umat muslim setempat harus menyewa gedung dengan biaya sekian duit yang itu tidaklah murah. Bersyukurlah kita hidup di Indonesia yang dengan bebasnya kita beribadah di Masjid, bahkan tak sedikit Masjid dan Musholla yang sepi tak ada aktivitas ibadah disana. Semoga kita bukan hamba yang tidak bisa mensyukuri nikmat yang telah diberikan.

Saya rasa sudah cukup dan tak perlu panjang pembahasannya. Intinya adalah kita tak usah mengkhawatirkan fenomena seperti yang saya tuliskan diatas, cepat atau lambat itu akan menjadi suatu kewajaran di tengah masyarakat. Biar bagaimanapun beribadah itu memang butuh pengorbanan, baik itu waktu, tenaga, pikiran, hingga materi. Yang kita harus lakukan dan persiapkan adalah bagaimana kita punya modal untuk menjalankan ibadah dengan tenang. Itu mengharuskan kita menjadi seorang muslim yang mandiri finansial. Sebisa mungkin kita menjauhkan diri dari kemiskinan, kefakiran. Karena sesungguhnya kefakiran itu sungguh dekat dengan kekafiran. Seperti kata Ali Bin Abi Thalib ra, beliau pernah berkata: “Andai saja kemiskinan itu berwujud seorang manusia, maka aku tidak segan-segan untuk membunuhnya”. Wallahua’lam.

 

(Ahmad Ribby | 2014)

(Humas KAMMI Daerah Malang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: