Janganlah Kita Bermusuhan

Sebagai seorang manusia biasa tentunya kita pasti pernah melakukan kesalahan, baik kesalahan yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, baik kesalahan kecil ataupun kesalahan yang besar. Karena pada dasarnya memang tidak ada manusia yang sempurna sehingga sangat susah menjumpai orang-orang yang tak pernah melakukan kesalahan selama masa hidupnya. Hal ini tak jarang menjadi suatu pembenaran bagi kita ketika melakukan kesalahan-kesalahan, “Ah, salah kan manusiawi? Ini masih wajar kok”. Disadari atau tidak ketika kita membiasakan mengentengkan kesalahan-kesalahan akan membuat kepekaan kita menjadi berkurang sehingga seringkali kita tak menyadari bahwa kita telah melakukan kesalahan.

Berbuat salah itu memang wajar, apalagi kita manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Kita membutuhkan interaksi dengan orang lain, baik itu keluarga kita, tetangga, teman, atau bahkan mungkin orang yang baru dikenal sekalipun. Tentu dengan seringnya berinteraksi dengan seseorang menyebabkan potensi terjadi kesalahpahaman, ketidakcocokan, dll itu akan semakin tinggi. Hal inilah yang harus dipahami kenapa kita sebagai manusia harus bisa saling memaafkan. Karena kesalahan-kesalahan itu akan senantiasa berpeluang kita lakukan. Tinggal bagaimana cara kita memandang dan menyikapi kesalahan-kesalahan tersebut.

Karena minimnya pengetahuan, kerasnya hati, dan sifat egois yang terlalu mendominasi seringkali menjadi penyebab sulitnya kita memaafkan kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap kita. Bahkan tak jarang menyebabkan putusnya hubungan silaturahmi diantara pihak yang berselisih. Tidak saling menyapa, saling menggunjing satu sama lain, dan banyak lagi perbuatan turunan akibat dari tidak adanya sikap saling memaafkan dan memaklumi akan kesalahan yang telah dibuat. Padahal dalam Islam telah banyak hadist tentang larangan saling bermusuhan dan memutus silaturahmi.

 

“Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka”  (HR Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’ : 7635)

 

Abu khirasy Al Aslami Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya (membunuhnya) “ (HR Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no : 406, dalam Shahihul Jami’: 655)

 

Abu Ayyub Radhiallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam” (HR Bukhari, Fathul Bari : 10/492) 

 

Walaupun dalam syari’atnya sudah jelas-jelas memelihara permusuhan itu dilarang tapi masih banyak diantara manusia saling bermusuhan satu sama lain. Hati mereka tertutup dengan sifat egois dan merasa dirinya paling benar. Jika hati sudah tertutup, kemana lagi kebenaran dan kebaikan akan memasuki hatinya? Naudzubillahimindzalik, semoga kita semua dijauhkan dari sifat yang seperti itu.

So, ingatlah kembali apakah ada diantara masa lalu kita perselisihan dengan orang lain? Dengan sahabat kita? Dengan tetangga kita? Atau dengan siapapun sebaiknya kita meminta maaf dan berusaha menyambung kembali tali silaturahmi yang sempat terputus. Kita singkirkan dulu pikiran bahwa bukan kita yang salah, bukan kita penyebabnya, sungguh orang yang meminta maaf itu hatinya mulia, dan yang memaafkan pun berjiwa besar. Akan tetapi jika kita sudah berusaha meminta maaf terlebih dahulu dan permintaan maaf kita ditolak maka gugurlah kewajiban kita dan sesungguhnya yang menolak permintaan maaf itulah dosanya tetap dibebankan.

Tetapi jika ada alasan yang dibenarkan, seperti karena ia meninggalkan shalat, atau terus menerus melakukan maksiat sedang pemutusan hubungan itu berguna bagi yang bersangkutan misalnya membuatnya kembali kepada kebenaran atau membuatnya merasa bersalah maka pemutusan hubungan itu hukumnya menjadi wajib. Tetapi jika tidak mengubah keadaan dan ia malah berpaling, membangkang, menjauh, menantang, dan menambah dosa maka ia tidak boleh memutuskan hubungan dengannya. Sebab perbuatan itu tidak membuahkan maslahat tetapi malah mendatangkan madharat. Dalam keadaan seperti ini, sikap yang benar adalah terus-menerus berbuat baik dengannya, menasehati dan mengingatkannya.

 

(Ahmad Ribby | 2014)

(Humas KAMMI Daerah Malang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: